Pilih Bahasa :
Kepala Divisi Monev Kesehatan YPMAK Riana Wadibar (tengah) bersama tenaga kesehatan Program Kampung Sehat di Kampung Ohotya, Distrik Mimika Timur Jauh, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.
PELAYANAN kesehatan di Kampung Ohotya, Distrik Mimika Timur Jauh, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, berjalan di tengah kehidupan masyarakat pesisir. Lebih dari 700 jiwa menggantungkan kehidupan pada laut, sementara para petugas kesehatan hadir mendekatkan layanan di wilayah yang jauh dari pusat pelayanan.
Mayoritas masyarakat Kampung Ohotya bekerja sebagai nelayan, dengan jumlah 140 kepala keluarga. Di tengah kehidupan tersebut, Program Kampung Sehat Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) hadir sebagai bagian dari upaya mendukung pelayanan kesehatan masyarakat.
Monitoring dan evaluasi (Monev) dilakukan secara rutin untuk melihat pelaksanaan program sekaligus memastikan pelayanan yang dipercayakan kepada mitra tetap berjalan sesuai tujuan dan kebutuhan warga.
“Kegiatan monev yang kami lakukan di Kampung Ohotya ini sebenarnya lebih ke kegiatan rutin yang dilakukan oleh YPMAK dalam rangka melakukan monitoring dan juga pengawasan terhadap program-program yang sudah dipercayakan kepada mitra untuk menjalankan program-program kesehatan,” ujar Kepala Divisi Monev Kesehatan YPMAK, Riana Wadibar.
Riana melihat koordinasi menjadi bagian penting dalam keberhasilan pelayanan. Pelaksana program perlu membangun hubungan kerja bersama petugas puskesmas dan mitra lain agar pelayanan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Juga bagaimana koordinasi yang dilakukan lintas instansi, yaitu bagaimana kolaborasi dengan petugas puskesmas ataupun dengan mitra-mitra lain yang mungkin saja programnya beririsan dengan program YPMAK melalui Yayasan Ekologi Papua,” terang Riana.
Di balik program tersebut, ada para petugas yang setiap hari berhadapan langsung dengan kondisi lapangan. Keterbatasan fasilitas tidak mengurangi semangat mereka untuk memberikan pelayanan.
“Saya sangat apresiasi atas kerja kerasnya, dan juga bagaimana mereka dengan pantang menyerah selalu berbuat yang terbaik untuk melayani masyarakat,” jelas Riana.
Respons masyarakat terhadap Program Kampung Sehat juga dinilai positif. Sekretaris Kampung Ohotya, Kristianus Irahewa, melihat hubungan antara pelaksana program dan warga berjalan baik karena ada kemauan untuk saling mendukung.
Namun, kehidupan para petugas masih menghadapi sejumlah kebutuhan dasar.
Peralatan dan makanan menjadi kebutuhan yang perlu ditingkatkan. Tempat tinggal juga menjadi perhatian. Pada awal program, petugas sempat tinggal di rumah masyarakat yang belum memiliki fasilitas kamar mandi. Kini mereka menggunakan Balai Kampung yang dinilai lebih memadai.
“Macam peralatan, makanan, itu harus ditingkatkan lagi,” ujarnya.
Kebutuhan air bersih menjadi persoalan lain. Petugas masih mengandalkan air sumur yang memiliki rasa asin. Kondisi tersebut membuat fasilitas penampungan air menjadi kebutuhan penting.
“Macam bak air itu mereka punya itu harus dibuatkan karena kasihan, mereka itu mau mandi itu biasanya pakai air sumur, baru dia itu asin,” ungkap Kristianus.
Bagi masyarakat Ohotya, pelayanan kesehatan bukan hanya tentang hadirnya petugas. Pelayanan juga membutuhkan tempat tinggal yang layak, air yang dapat digunakan, perlengkapan kerja, serta dukungan yang membuat petugas mampu bertahan dan bekerja dengan baik.
Monev YPMAK menjadi ruang untuk melihat seluruh kebutuhan tersebut secara langsung. Temuan di lapangan kemudian menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat program sekaligus meningkatkan dukungan bagi masyarakat dan petugas.
Di Kampung Ohotya, kesehatan tumbuh dari kerja bersama, yakni petugas yang pantang menyerah, masyarakat yang terbuka, dan program yang terus dievaluasi agar pelayanan semakin dekat dengan kebutuhan warga. (ots-2)