Pilih Bahasa :
Wakil Ketua Pengurus Bidang Perencanaan Program, Feri Magai Uamang.
PEGUNUNGAN yang sejuk dengan hamparan tanaman kopi, serta pesisir yang dipenuhi pohon kelapa, menyimpan potensi besar bagi pembangunan ekonomi masyarakat Mimika. Selama bertahun-tahun, kekayaan alam tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat. Kini, potensi itu didorong untuk berkembang menjadi sumber kesejahteraan yang berkelanjutan melalui penguatan kelembagaan ekonomi dan peningkatan nilai tambah hasil produksi.
Berangkat dari semangat tersebut, Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) terus memperkuat program pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan koperasi serta optimalisasi komoditas unggulan di wilayah pegunungan dan pesisir Kabupaten Mimika.
Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun kelembagaan masyarakat agar mampu mengelola usaha secara mandiri, profesional, dan berkelanjutan.
Wakil Ketua Bidang Perencanaan Program YPMAK, Feri Magai Uamang mengatakan penguatan koperasi menjadi salah satu prioritas dalam program ekonomi YPMAK pada periode kepengurusan saat ini.
“Koperasi sebenarnya bukan program baru, tetapi kami melihat masih diperlukan edukasi agar masyarakat memahami pengelolaan koperasi yang baik dan benar,” kata Feri.
Menurutnya, pemahaman masyarakat mengenai koperasi masih perlu diperkuat. Di sejumlah wilayah pegunungan, aktivitas perdagangan kebutuhan pokok selama ini sering dipersepsikan sebagai koperasi, padahal pengelolaannya masih dilakukan secara perorangan dan belum menerapkan prinsip-prinsip kelembagaan koperasi.
Karena itu, YPMAK mendorong masyarakat untuk bergabung sebagai anggota koperasi sekaligus memperoleh pembinaan mengenai tata kelola organisasi, pengelolaan usaha, administrasi, hingga pengembangan bisnis. Melalui koperasi yang sehat, masyarakat diharapkan memiliki wadah bersama untuk mengembangkan kegiatan ekonomi secara lebih terarah.
Selain memperkuat kelembagaan, YPMAK juga memfokuskan perhatian pada pengembangan komoditas kopi di wilayah pegunungan Mimika. Kondisi alam yang sejuk serta proses budidaya yang masih dilakukan secara alami menjadi keunggulan tersendiri bagi kopi yang dihasilkan masyarakat.
Tanaman kopi tumbuh tanpa penggunaan pupuk kimia sehingga menghasilkan produk yang memiliki karakter organik dan berpotensi memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Potensi inilah yang ingin dikembangkan melalui pembinaan yang berkesinambungan.
Untuk mendukung program tersebut, YPMAK membentuk kelompok kerja koperasi dan menggandeng berbagai mitra guna memberikan pelatihan, peningkatan kapasitas, serta pendampingan kepada masyarakat.
“Tujuannya agar masyarakat di kampung dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan mampu mengelola potensi ekonomi yang mereka miliki,” ujarnya.
Kolaborasi menjadi bagian penting dalam pengembangan program. YPMAK bekerja sama dengan instansi pemerintah yang membidangi koperasi dan perkebunan, serta menggandeng mitra dari Yogyakarta untuk mendukung penyediaan pelatihan, peralatan kerja, hingga pendampingan teknis bagi masyarakat.
Pendekatan serupa juga diterapkan di wilayah pesisir. Jika pegunungan memiliki potensi kopi, maka kawasan pesisir menyimpan kekuatan pada komoditas kelapa yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Melalui program pemberdayaan ekonomi, YPMAK mendorong pengolahan kelapa menjadi produk bernilai tambah, salah satunya virgin coconut oil (VCO) atau minyak kelapa murni. Pengolahan hasil kelapa menjadi produk siap jual diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus membuka peluang usaha baru di tingkat kampung.
Untuk memperkuat pengembangan industri tersebut, YPMAK menjalin kerja sama dengan perusahaan pengolahan kelapa yang memiliki pengalaman di tingkat nasional maupun internasional dan berpusat di Biak. Kemitraan ini diharapkan mampu menghadirkan transfer pengetahuan, peningkatan kualitas produk, serta membuka akses pasar yang lebih luas bagi hasil produksi masyarakat.
Melalui penguatan koperasi, pengembangan kopi organik, dan hilirisasi produk kelapa, YPMAK tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, tetapi juga membangun fondasi kemandirian berbasis potensi lokal. Setiap program dirancang agar masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengelola sumber daya yang mereka miliki, bukan sekadar penerima manfaat.
Pada akhirnya, pemberdayaan ekonomi bukan hanya berbicara tentang peningkatan pendapatan, melainkan juga tentang membangun kepercayaan diri masyarakat untuk mengembangkan usahanya sendiri. Dari pegunungan yang menghasilkan kopi berkualitas hingga pesisir yang melahirkan produk kelapa bernilai tambah, YPMAK terus mendorong agar kekayaan alam Mimika menjadi sumber kesejahteraan yang dikelola oleh masyarakatnya sendiri, untuk hari ini dan bagi generasi yang akan datang. (ots-2)