Pilih Bahasa :
Kepala Divisi Program Pendidikan, Lambertinus Hendrikus Moyao, S.Sos., M.AP, menjadi salah satu putra Papua yang dipercaya mengelola program pendidikan bagi ribuan anak di Mimika.
TIDAK banyak yang tahu bahwa sosok tenang yang kini memimpin Divisi Program Pendidikan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) pernah menjadi anak yang kesulitan membaca, menulis, dan berhitung saat duduk di bangku sekolah dasar.
Namun dari keterbatasan itulah lahir ketekunan yang kemudian mengantarkan Lambertinus Hendrikus Moyao, S.Sos., M.AP, menjadi salah satu putra Papua yang dipercaya mengelola program pendidikan bagi ribuan anak di Mimika.
Pria yang akrab disapa Hengky ini lahir di Aikima, Wamena, pada 23 Mei 1985. Masa kecilnya dihabiskan di pedalaman Pegunungan Papua, mengikuti tugas sang ayah yang berprofesi sebagai guru.
Di balik jabatan dan gelar akademiknya saat ini, tersimpan kisah perjuangan yang penuh air mata, kegigihan, dan pelajaran hidup yang tak terlupakan.
“Saya termasuk anak yang sangat lambat dalam membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan waktu SD saya pernah tidak naik kelas karena belum mampu mengikuti pelajaran,” kenangnya.
Saat itu, karena faktor usia, ia tetap dinaikkan ke kelas dua meski kemampuan akademiknya masih tertinggal. Setiap kali pelajaran matematika berlangsung, Hengky justru kembali duduk di kelas satu bersama adik-adik kelasnya untuk belajar dari awal.
Tidak hanya itu, sebuah aturan khusus diterapkan di rumahnya.
Di pintu masuk rumah ditempel huruf-huruf alfabet. Ia tidak diperbolehkan masuk ataupun keluar rumah sebelum mampu membaca seluruh huruf yang ada di depannya.
“Kalau mau bermain, saya harus baca dulu. Kalau belum bisa, tidak boleh keluar rumah. Itu saya jalani terus setiap hari,” tuturnya.
Perlahan tetapi pasti, kerja keras itu membuahkan hasil. Memasuki kelas empat dan lima SD, kemampuannya meningkat pesat. Anak yang dulu kesulitan membaca mulai tampil dalam berbagai lomba cerdas cermat hingga tingkat Kabupaten Jayawijaya.
Ia bahkan hampir menjadi wakil Jayawijaya ke tingkat Provinsi Papua.
“Saya masih ingat waktu itu kalah tipis karena salah menjawab satu pertanyaan tentang samudra. Tapi saya bangga karena anak kampung juga bisa bersaing dengan anak-anak dari kota,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun cobaan kembali datang ketika ayahnya meninggal dunia saat ia masih duduk di kelas 1 SMP. Kehilangan sosok pencari nafkah membuat keluarganya harus meninggalkan Wamena dan pindah ke Timika untuk tinggal bersama keluarga besar.
Di Mimika, Hengky melanjutkan pendidikan di Kokonao. Saat itulah sebuah kesempatan besar datang.
Melalui program beasiswa yang saat itu masih dikelola LPMAK, ia terpilih menjadi salah satu siswa yang dikirim melanjutkan pendidikan SMA di Semarang.
Keputusan itu tidak mudah
Ibunya sempat menolak kepergiannya karena keluarga masih berduka atas meninggalnya sang ayah.
“Saya sempat bertengkar dengan mama. Mama bilang jangan berangkat. Tapi saya tetap ingin sekolah. Hampir satu bulan kami tidak berkomunikasi karena saya tetap memilih berangkat,” ucapnya.
Keberanian meninggalkan kampung halaman itu menjadi titik balik kehidupannya.
Di Semarang, ia belajar hidup mandiri jauh dari keluarga. Namun masa sekolahnya juga tidak selalu berjalan mulus.
Hengky mengaku sering menghindari les bahasa Inggris saat SMA. Kebiasaan itu berbuah penyesalan ketika ia dinyatakan tidak lulus karena nilai bahasa Inggris tidak memenuhi syarat. Ironisnya, saat itu ia sudah diterima kuliah.
“Saya kuliah dengan status belum lulus SMA karena bahasa Inggris saya tidak lulus. Tahun berikutnya saya harus kembali memakai seragam SMA untuk ikut ujian lagi agar ijazah bisa keluar,” kenangnya sambil tertawa.
Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga yang terus ia bagikan kepada generasi muda Papua.
“Apa yang kita tanam hari ini akan kita tuai nanti. Kalau sekarang kita malas belajar, suatu saat kita akan menyesal,” ujarnya.
Perjalanan akademiknya pun tidak berhenti di sana.
Awalnya ia mengambil Teknik Sipil di Semarang. Namun kecintaannya pada aktivitas sosial dan olahraga membuatnya merasa tidak menemukan passion di bidang tersebut. Setelah beberapa semester, ia memutuskan pindah ke Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Semarang.
Keputusan itu menjadi salah satu langkah terbaik dalam hidupnya.
Ia menyelesaikan studi Sarjana Administrasi Negara, kemudian melanjutkan pendidikan Magister Administrasi Publik di Universitas Diponegoro.
Selama menempuh pendidikan, Hengky juga dipercaya menjadi pendamping mahasiswa Papua penerima beasiswa di Semarang. Pengalaman mendampingi para pelajar dan mahasiswa inilah yang kemudian membentuk kepeduliannya terhadap dunia pendidikan.
Setelah meraih gelar magister, ia kembali ke Timika pada 2018. Tak lama kemudian, ia bergabung dengan YPMAK dan mengawali karier di bidang kesehatan. Selama hampir lima tahun, ia bekerja mendampingi berbagai program sebelum akhirnya dipercaya menangani bidang pendidikan.
Pengalamannya mengurus mahasiswa dan pelajar Papua di Jawa menjadi pertimbangan penting hingga akhirnya pada 2025 ia ditetapkan sebagai Kepala Divisi Pendidikan YPMAK.
Bagi Hengky, memimpin Divisi Pendidikan bukan sekadar mengurus administrasi atau anggaran yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah setiap tahun.
Lebih dari itu, ia harus menghadapi berbagai persoalan manusia dengan segala dinamika dan harapannya.
“Di pendidikan itu kita tidak hanya bekerja di depan komputer. Kita berhadapan dengan orang, dengan masalah, dengan harapan. Kadang ada yang datang marah-marah, tapi kita harus tetap melayani dengan senyum,” katanya.
Saat ini, salah satu fokus utamanya adalah menyusun standar operasional prosedur (SOP) yang akan menjadi fondasi tata kelola seluruh program pendidikan YPMAK, mulai dari penerimaan peserta hingga bantuan pendidikan.
Di tengah kesibukannya, Hengky tidak pernah lupa pada akar perjuangannya. Ia selalu mengingat masa ketika dirinya dianggap tidak mampu membaca dan berhitung.
Karena itu, ia sering berpesan kepada anak-anak Papua agar tidak pernah meremehkan kemampuan diri sendiri.
“Yang membuat kita tidak berhasil sering kali bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita tidak mau mencoba. Jangan pernah bilang saya tidak bisa. Berusahalah dulu, baru kita tahu kemampuan kita yang sebenarnya,” pesannya.
Kisah hidup Lambertinus Hendrikus Moyao menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjalanan. Dari seorang anak kampung yang pernah kesulitan membaca, ia tumbuh menjadi pemimpin yang kini membantu membuka jalan pendidikan bagi generasi Papua berikutnya.
Sebuah perjalanan panjang yang menunjukkan bahwa mimpi dapat dicapai oleh siapa saja yang berani berjuang dan tidak pernah menyerah. (ots-1)