Pilih Bahasa :
Tim Divisi Monev Kesehatan YPMAK bersama petugas Kampung Sehat, di Basecamp Kampung Sehat, Aindua, Distrik Mimika Barat Jauh, Sabtu (2/5/2026).
SENYUM haru terpancar dari wajah Theresia Kamakaula saat menceritakan kehadiran tim medis di Kampung Aindua, Distrik Mimika Barat Jauh, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Bagi warga pesisir Mimika, akses layanan kesehatan selama ini sering menjadi kemewahan yang sulit dijangkau akibat hambatan geografis dan keterisolasian wilayah.
Kondisi tersebut perlahan berubah melalui Program Kampung Sehat yang diinisiasi Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK). Program ini membuka akses pelayanan dasar kesehatan bagi masyarakat kampung, sekaligus menghadirkan harapan baru di tengah keterbatasan sarana medis.
Manfaat program dirasakan langsung oleh masyarakat. Theresia mengaku kehadiran tenaga kesehatan memberi rasa aman bagi warga, terutama saat kondisi darurat datang tanpa mengenal waktu. Dedikasi para petugas medis menjadi bukti hadirnya pelayanan kemanusiaan di wilayah terluar Mimika.
“Kalau ada warga sakit darurat, bahkan tengah malam pun tim tetap melayani kami dengan baik,” ungkap Theresia penuh syukur, Sabtu (2/5/2026).
Bukan hanya pelayanan cepat, keramahan petugas serta penjelasan rinci mengenai dosis obat juga memberi ketenangan bagi warga. Kehadiran tenaga kesehatan membangun kepercayaan masyarakat untuk lebih terbuka memanfaatkan layanan medis secara rutin.
Program Kampung Sehat kini menjadi sandaran utama masyarakat Kampung Aindua dalam menjaga kualitas hidup di tanah leluhur mereka. Di tengah keterbatasan infrastruktur kesehatan pemerintah, program ini hadir sebagai jembatan pelayanan bagi warga pesisir.
Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kesehatan YPMAK, Riana Wadibar menegaskan program ini dirancang untuk menjangkau wilayah-wilayah yang belum terlayani secara maksimal oleh fasilitas kesehatan pemerintah.
YPMAK berkomitmen mengisi ruang pelayanan medis yang masih kosong agar masyarakat pelosok tetap memperoleh hak dasar kesehatan. Fokus layanan diarahkan pada pertolongan pertama dan pengobatan dasar secara cepat dan tepat sasaran.
“Respons masyarakat sangat positif karena program ini menyentuh kebutuhan mendasar mereka,” ujar Riana dan tim saat meninjau pelaksanaan program di Kampung Aindua.
Meski dihadapkan pada keterbatasan sarana dan personel, YPMAK terus berupaya memberikan pelayanan maksimal. Kehadiran program ini diposisikan sebagai bentuk dukungan terhadap agenda pembangunan kesehatan pemerintah daerah, bukan sebagai pengganti peran negara.
“Tanggung jawab utama pelayanan tetap ada pada pemerintah, tetapi kami hadir untuk mendukung agar masyarakat tidak terabaikan,” jelasnya.
Menurut Riana, Program Kampung Sehat menjadi solusi alternatif bagi kampung-kampung berakses rendah. Kolaborasi multipihak menjadi kunci agar pelayanan kesehatan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di kawasan pesisir terpencil.
Riana juga mengingatkan warga agar memanfaatkan layanan ini secara optimal sebelum adanya penyesuaian kebijakan operasional pada masa mendatang. Ia menjelaskan sistem rotasi tenaga kesehatan dilakukan setiap tiga bulan akibat keterbatasan jumlah personel.
Para tenaga kesehatan memerlukan masa istirahat untuk menjaga kualitas pelayanan sebelum kembali bertugas di lapangan. Skema ini berbeda dengan sistem pemerintah yang memiliki sumber daya lebih besar.
“Tenaga kami terbatas, sehingga setelah tiga bulan bertugas mereka harus beristirahat sebelum kembali bertugas,” ungkap Riana membandingkan dengan sistem rotasi pemerintah yang memiliki sumber daya lebih besar.
Ia menekankan dukungan keamanan dan kenyamanan dari masyarakat sangat diperlukan agar para petugas dapat bekerja secara totalitas. Lingkungan kerja yang kondusif memberi ruang bagi tenaga medis untuk menjalankan pelayanan secara optimal.
Di lapangan, tantangan kesehatan masyarakat Aindua masih didominasi penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare. Dua persoalan ini memerlukan penanganan berkelanjutan, termasuk edukasi kesehatan keluarga.
Petugas Kampung Sehat, Suster Siska bersama Koordinator Area Suster Ida Fauziah menjalankan pelayanan secara bergantian. Selain membuka layanan di posko kesehatan, keduanya aktif mendatangi keluarga-keluarga untuk memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat dan pentingnya pengobatan tuntas.
“Selain pengobatan, kami melakukan Pemantauan Minum Obat (PMO) guna memastikan pasien sembuh total,” tutur Suster Siska.
Pendekatan preventif ini menjadi langkah penting untuk mencegah resistensi obat maupun komplikasi penyakit pada masa mendatang. Di tengah keterbatasan fasilitas, sentuhan pelayanan yang konsisten menjadi fondasi utama menjaga kesehatan masyarakat Aindua.
Program Kampung Sehat memperlihatkan satu pelajaran penting: pelayanan kesehatan tidak semata hadir melalui bangunan megah atau teknologi canggih, melainkan melalui komitmen, kepedulian, dan keberanian menjangkau mereka yang tinggal jauh dari pusat layanan. Di pesisir Aindua, asa itu terus menyala lewat langkah-langkah kecil para pelayan kesehatan yang setia hadir bagi masyarakat. (ots-1/ots-2)