Pilih Bahasa :
SUASANA penuh semangat dan keceriaan mewarnai kegiatan akhir tahun siswa kelas 1 Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) melalui penampilan bertajuk “The Wonderful Life Cycle” (Siklus Hidup yang Menakjubkan) yang diselenggarakan Program Montessori SATP.
Kegiatan ini menjadi momen istimewa bagi para siswa untuk menunjukkan hasil pembelajaran selama satu tahun ajaran melalui ekspresi kreatif berbasis sains, seni, dan pengalaman eksplorasi.
Dalam kegiatan tersebut, setiap kelas menampilkan tema siklus kehidupan yang berbeda. Grade (kelas) 1B menampilkan Fish Life Cycle (siklus hidup ikan), Grade 1C Frog Life Cycle (siklus hidup katak), Grade 1D Water Cycle (siklus air), Grade 1E Chicken Life Cycle (siklus hidup ayam), Grade 1F Butterfly Life Cycle (siklus hidup kupu-kupu), Grade 1G Sago Palm Life Cycle (siklus hidup pohon sagu), dan Grade 1H Bee Life Cycle (siklus hidup lebah).
Melalui berbagai pertunjukan tersebut, siswa tidak hanya mempresentasikan pemahaman tentang konsep siklus kehidupan makhluk hidup, tetapi juga mengasah kemampuan komunikasi, kreativitas, kerja sama, serta keberanian tampil di depan umum.
Penanggung Jawab Program Montessori SATP, Theodora Karmayanti Widyaningsih menjelaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari penutupan tahun ajaran yang dirancang sebagai wadah ekspresi siswa atas seluruh proses belajar yang telah dilalui selama satu tahun.
“Hari ini anak-anak menampilkan ekspresi kreatif tentang bagaimana mereka belajar memahami siklus kehidupan makhluk hidup. Mereka belajar melalui eksplorasi di luar kelas, menggunakan aparatus di kelas, lalu mengekspresikannya dalam bentuk kreatif. Dengan begitu mereka lebih mudah memahami, mengingat, dan membangun pemahaman bersama secara sosial, akademik, maupun interpersonal,” ujarnya.
Theodora menjelaskan konsep Montessori yang diterapkan di SATP menekankan pembelajaran berbasis komunitas kecil atau ‘mini community’, di mana siswa tidak hanya belajar secara individu tetapi juga saling membantu dan memahami bersama teman-temannya.
“Harapannya kegiatan ini bisa menginspirasi, baik di internal SATP maupun sekolah lain, bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Tugas kita adalah menghargai proses belajar mereka, menciptakan pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, dan memudahkan anak memahami materi,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala SATP Sonianto Kuddi mengapresiasi keberanian dan antusiasme siswa yang tampil percaya diri di atas panggung.
“Hari ini anak-anak belajar memahami siklus hidup dengan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan. Saat tampil di depan, mereka sedang melatih rasa percaya diri, belajar kerja sama, kepatuhan kepada guru, serta keteraturan yang menjadi prinsip penting dalam Montessori,” ungkapnya.
Sonianto juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru yang telah mendampingi dan membimbing siswa sepanjang tahun ajaran.
“Saya berterima kasih kepada bapak dan ibu guru atas tenaga, pikiran, dan waktu yang diberikan untuk membina anak-anak. Semoga semua yang dilakukan diberkati Tuhan,” tuturnya.
Menurut Sonianto, kegiatan seperti ini tidak hanya mengembangkan aspek akademik, tetapi juga membangun karakter siswa agar lebih menghargai diri sendiri, bangga dengan identitasnya, dan tumbuh menjadi generasi Papua yang percaya diri.
Pendekatan Montessori sendiri kini menjadi fondasi utama proses belajar mengajar di SATP, sekolah milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) selaku pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI).
Di SATP, Montessori terintegrasi dengan Kurikulum Berbasis Kehidupan Kontekstual Papua (KBKKP), sehingga anak-anak didorong untuk belajar mandiri, memilih aktivitas sesuai minat, serta bertanggung jawab dalam lingkungan belajar yang terstruktur.
Melalui The Wonderful Life Cycle, SATP menutup tahun ajaran dengan cara yang edukatif, menyenangkan, dan meninggalkan kesan mendalam bagi siswa, guru, maupun orang tua. (ots-1)