Pilih Bahasa :
Suasana story telling yang dilakukan oleh mahasiswa peserta beasiswa YPMAK di PIBI IKOPIN. Pembina PIBI IKOPIN University memberikan hadiah kepada pemenang story telling. (IST)
PUSAT Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan (PIBI) IKOPIN University kembali menggelar program tahunan ‘life skill’ bagi mahasiswa penerima beasiswa Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK).
Pada 2026, kegiatan ini dilaksanakan di Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta dengan dua fokus utama yakni orientasi bisnis dan orientasi sosial budaya.
Program ini dirancang untuk memperluas wawasan mahasiswa asal Timika tentang proses bisnis secara menyeluruh, mulai dari pengadaan bahan baku (input), proses produksi, hingga strategi pemasaran (output). Para mahasiswa tidak hanya menerima ceramah dari pemilik usaha, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik dan observasi lapangan.
Salah satu lokasi kunjungan adalah sentra usaha Jejamuran di Yogyakarta. Di tempat ini, mahasiswa melihat bagaimana jamur yang sebelumnya dianggap komoditas biasa, dapat diolah secara kreatif menjadi produk bernilai tambah tinggi.
“Beragam menu olahan jamur disajikan dengan pengemasan menarik dan strategi pemasaran yang kuat. Di sini mahasiswa melihat langsung bagaimana proses dan nilai tambah itu diciptakan,” kata Pembina PIBI IKOPIN University, Indra Fahmi melalui telepon selulernya, Senin (2/3).
Selain itu, mahasiswa juga mengunjungi sentra kerajinan gerabah di Kasongan, Yogyakarta. Berbahan dasar tanah liat, masyarakat setempat mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi bahkan menembus pasar ekspor.
Kemudian, dalam orientasi sosial budaya, mahasiswa mengunjungi kawasan Candi Prambanan dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
Kegiatan ini membuka wawasan mereka tentang homogenitas dan heterogenitas masyarakat Jawa, dinamika sosial, toleransi, serta kekayaan budaya yang berbasis sosial dan agama.
‘Life skill’ bukanlah kegiatan wisata semata. “Ini bukan piknik atau jalan-jalan. Mahasiswa dibuka kesadarannya, diberi pengalaman langsung yang tidak mereka dapatkan di ruang kelas,” tegasnya.
Tak hanya aspek bisnis dan sosial budaya, pihaknya juga mendorong penguatan karakter mahasiswa melalui kegiatan ‘story telling’. Kegiatan ini lahir dari pengamatan yang melihat sebagian mahasiswa Papua, termasuk penerima beasiswa YPMAK, cenderung kurang percaya diri dan menutup diri di kelas besar.
Melalui presentasi berbasis PowerPoint, mahasiswa didorong untuk merencanakan materi, menyusun gagasan secara runtut, dan tampil di depan umum.
“Saya ingin mereka punya plan, bukan sekadar dream atau want. Tapi mereka belajar menyiapkan diri dan berani tampil,” ujar Fahmi.
Intinya kegiatan ini untuk membangun rasa harga diri, membuka ruang ekspresi, dan menanamkan kemandirian.
“Harapannya, mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara mental dan sosial. Mereka melihat, merasakan, dan melakukan langsung. Itulah makna life skill yang sesungguhnya,” ungkapnya. (ots-1)