Pengelola Dana Kemitraan                Pilih Bahasa :

Mengajarkan Anak Berwirausaha dan Berpikir Kritis

Thursday, 05 March 2026
Pelajar SATP ketika merawat selada yang tumbuh rapi di atas meja-meja tanam hidroponik. (MISKAN)

DI belakang kompleks Sekolah Asrama Taruna Papua, berdiri sebuah green house seluas 425 meter persegi. Bangunan itu menjadi ruang belajar yang berbeda dari kelas-kelas pada umumnya. Di sanalah para siswa menekuni pelajaran tentang kehidupan—melalui deretan pakcoy dan selada yang tumbuh rapi di atas meja-meja tanam hidroponik.

Sekolah berasrama ini berada di bawah naungan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro, pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia.

Namun di ruang hijau itu, yang tumbuh bukan sekadar sayuran. Dari sekitar 1.000 lubang tanam di setiap meja, bertunas pula cara berpikir kritis dan semangat kemandirian anak-anak Papua dari suku Amungme dan Kamoro, serta lima suku kekerabatan: Dani, Damal, Nduga, Mee, dan Moni.

Program ini dikenal sebagai UPT Edupreneur SATP—sebuah model pendidikan yang memadukan kewirausahaan dengan pembelajaran sains secara aplikatif.

Di UPT Edupreneur SATP, siswa tidak hanya belajar menanam secara hidroponik. Mereka diajak memahami proses ilmiah di balik pertumbuhan tanaman sekaligus menghitung nilai ekonominya. Setiap proses menjadi bahan penelitian sederhana.

Mereka mengamati satu tanaman yakni mencatat kecepatan tumbuh, tinggi batang, jumlah daun, hingga faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhannya. Data itu dikumpulkan dalam tabel, lalu diolah menjadi grafik. Dari grafik, mereka belajar membaca pola, menarik kesimpulan, dan membuat analisis.

“Melalui metode pembelajaran ini, secara tidak langsung anak-anak diajarkan untuk tidak langsung percaya dengan suatu hal. Tetapi semua harus ditunjukkan dengan data,” kata Kepala SATP, Sonianto Kuddi.

Jika ditemukan tanaman yang pertumbuhannya lambat atau hasilnya kurang maksimal, pertanyaan pun bermunculan. Apakah nutrisinya kurang? Apakah cuaca berpengaruh? Proses bertanya inilah yang menjadi fondasi penting dalam membangun nalar il­miah.

“Ke depannya dengan model pembelajaran seperti ini, mereka akan lebih kritis,” ujarnya.

Di green house itu, siswa belajar bahwa sains bukan sekadar teori di buku, melainkan proses berpikir yang lahir dari rasa ingin tahu.

Pembelajaran di UPT Edupreneur tidak berhenti pada aspek ilmiah. Dunia usaha menjadi bagian tak terpisahkan. Siswa diajarkan menghitung modal, memproyeksikan hasil panen, hingga menghitung keuntungan.

Satu meja tanam membutuhkan biaya tertentu. Dari situ dihitung berapa hasil panen yang diperoleh dan berapa potensi laba yang bisa diraih. Dalam satu kali panen, hasilnya bisa mencapai ratusan kilogram jika digabungkan antara pakcoy dan selada.

Sistem tanam dirancang berkelanjutan. Dua minggu sebelum panen, bibit baru sudah mulai ditanam. Dengan pola ini, panen bisa dilakukan setiap dua minggu tanpa jeda panjang. Siklus produksi berjalan stabil—sebuah pelajaran tentang manajemen dan perencanaan.

Hasil panen dipasarkan melalui kerja sama dengan kontraktor PT Freeport Indonesia yang menyuplai kebutuhan sayuran ke Tembagapura. Sebagian hasil juga terjual dengan harga sekitar Rp50.000 per satuan tertentu, tergantung jenis dan kualitas.

Tantangan tentu ada. Angin besar pernah merusak instalasi. Plastik UV kerap sulit diperoleh di Timika. Namun program ini tetap berjalan.

“Untuk kebutuhan tertentu, pihak sekolah bekerja sama dengan Yayasan Lokon pusat di Jakarta untuk pengadaan bahan. Namun pengelolaannya tetap mandiri, UPT membayar sendiri dari dana usaha yang telah mereka kelola selama dua tahun terakhir,” terangnya.

Di sinilah anak-anak belajar bahwa usaha bukan hanya soal untung, tetapi juga tentang ketahanan menghadapi hambatan.

Cikal Bakal Program

Program ini bermula dari kunjungan seorang ahli hidroponik PT Freeport Indonesia, Leroy, yang melihat aktivitas Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di lobi sekolah. Ketertarikannya berlanjut dalam diskusi bersama pimpinan SATP.

“Dari diskusi tersebut, tokoh Amungme (Okto Magai) yang membidangi masalah holtikultura didatangkan untuk memberikan pelajaran di SATP,” tuturnya.

Keterlibatan Okto Magai menjadi titik penting. Pengusaha hidroponik asal Amungme itu membangun fasilitas lengkap dengan modal pribadi serta menghadirkan tim untuk melatih guru dan siswa. Selama satu hingga dua bulan pendampingan intensif, fondasi sistem ditanamkan.

Setelah itu, pengelolaan diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, sementara kerja sama pemasaran tetap berjalan hingga kini.

“Okto Magai menjadi contoh nyata bagi generasi muda Amungme bahwa ada peluang usaha di luar pekerjaan yang selama ini umum dilihat. Hidroponik, jika ditekuni serius, mampu menghasilkan pendapatan yang menjanjikan,” jelasnya.

Selain hidroponik modern, siswa juga belajar pertanian konvensional di bedeng-bedeng depan lobi sekolah. Terong dan berbagai tanaman hortikultura ditanam sebagai bahan perbandingan. Dari sana, mereka memahami perbedaan produktivitas, efisiensi, serta tantangan antara sistem tradisional dan modern.

Menanam Masa Depan

Dampak program ini terasa langsung. Keuntungan usaha membantu mendukung berbagai kebutuhan kegiatan siswa, bahkan menjadi tambahan uang saku bagi mereka yang mengikuti lomba hingga ke Jakarta dan Yogyakarta.

“Hasil usaha ini pun memberi dampak langsung bagi siswa. Keuntungan yang diperoleh turut membantu mendukung kebutuhan kegiatan, termasuk menjadi uang saku bagi siswa yang mengikuti lomba hingga ke Jakarta dan Yogyakarta,” kata Soni.

Meski setelah lulus para siswa kembali ke kampung halaman masing-masing, harapan sekolah tidak berhenti di gerbang asrama. 

Dengan lahan yang luas di daerah asal, ilmu hidroponik diharapkan dapat dimanfaatkan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Jika berkembang, barulah melangkah menjadi usaha mandiri.

Di green house SATP, anak-anak Papua belajar lebih dari sekadar bercocok tanam. Mereka belajar membaca data, mengelola risiko, menghitung peluang, dan berani bertanya. Dari lubang-lubang tanam yang kecil itu, sesungguhnya sedang tumbuh sesuatu yang jauh lebih besar: kemandirian dan cara berpikir kritis untuk masa depan. (ots-1/ots-2)

124 Pembaca
Bagikan ke Sosial Media


Galeri Foto

Publikasi Pelaksanaan Program
Melalui Gambar

Galeri Video


Peta Kantor YPMAK


Alamat Kantor :
Pusat (sekretariat) :
Jalan Yos Soedarso Timika, Mimika – Papua Tengah Kode Pos 99910

Email : humas@ypmak.or.id
Copyright © 2026 | YPMAK Timika – Papua
Semua berita dalam web ini menjadi hak cipta YPMAK Timika