Pilih Bahasa :
Kepala Divisi Pemantauan dan EValuasi Program Ekonomi, Monica Maramku ketika mendampingi Pengurus YPMAK saat kunjungan kerja di Kampung Potowaiburu.
PERJALANAN hidup seseorang dalam meniti karir sulit ditebak. Banyak orang melihat seseorang ketika dia berada di puncak, tetapi hanya sedikit orang yang bertanya bagaimana ia mencapainya.
Proses selalu dilewati dengan keringat dan air mata, melewati lika liku perjuangan, ditempah oleh waktu dan menjadi kuat bersama pengalaman yang dilalui.
Ketika mengisahkan perjalanan hidupnya, sosok Monica Maramku (42) tak bisa menyembunyikan kesedihan dari wajahnya mengenang saat dimana proses menempahnya.
Monica demikan ia biasa disapa, merupakan sosok perempuaan tangguh Suku Kamoro dari Kampung Pronggo, Distrik Mimika Barat Tengah, yang kini dipercayakan menjabat Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi Program Sosial Ekonomi Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK).
Anak ketiga dari pasangan Vinsensius Maramku (almarhum) dan Regina Murana (almarhumah) ini memiliki kisah perjalanan hidup yang penuh liku.
Monica menyelesaikan pendidikan SD YPPK Waonaripi tahun 1995 dan melanjutkan pendidikan di SMP Bernardus lulus tahun 1998, kemudian SMA YPPK Taruna Bhakti Waena Jayapura lulus tahun 2001.
Kota Kembang, Bandung, Provinsi Jawa Barat, menjadi kota tujuaannya untuk mengenyam pendidikan di perguruan tingggi.
Monica menempuh pendidikan di kota itu hingga tujuh semester. Takdir berkata lain, sosok ibu yang selalu mendukungnya dalam doa maupun materi, berpulang untuk selamanya. Saat itu Monica merasa sangat terpukul. Pulang ke Timika adalah jalan terbaik meskipun itu berat.
“Bapak duluan meninggal. Saat saya sedang kuliah, mama meninggal dan saya memutuskan untuk berhenti kuliah dan kembali ke Timika tahun 2007. Kalau saya ingat itu saya sedih,” tutur wanita kelahiran Kota Pala, Fakfak, 11 Agustus 1983 ini dengan mata berkaca kaca.
Tahun 2009 menjadi awal karirnya di YPMAK, saat itu yayasan ini masih bernama Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK). “Saya masuk dengan status sebagai penerima tamu (resepsionis) dan penanggung jawab ruang rapat gedung keuangan,” ujarnya.
Enam bulan kemudian Monica dipercayakan menjadi administrator. Karirnya sebagai administrator terus berpindah, mulai dari administrator di bagian rumah tangga hingga menjadi administrator wakil sekretaris eksekutif bidang pendukung. Bahkan ketika lembaga ini masuk masa transisi dari LPMAK ke YPMAK, Monica masih dipercayakan sebagai admin.
“Selama tujuh tahun saya melaksanakan pekerjaan administrator, sampai akhirnya LPMAK berubah menjadi YPMAK. Jadi, pekerjaan saya hampir semuanya di balik meja, berhadapan dengan komputer dan mengurus administrasi,” ungkapnya.
Selama berkarya di setiap posisi yang diberikan, Monica menerimanya sebagai tanggung jawab yang harus dikerjakan dengan hati, dedikasi yang tinggi dan tangggu jawab.
Meskipun posisi yang diberikan itu kecil, namun itu akan berdampak sangat besar bagi organisasi jika tidak dijalankan dengan penuh rasa tanggung jawab.
“Karir saya dimulai dari bawah sekali. Kalau mengingat itu saya kadang sedih, tetapi itu menjadi motivasi, karena saya percaya bahwa sesuatu yang dimulai dari dasar membuat saya tetap berdiri kuat sampai hari ini menjadi mandiri dan lebih bertanggung jawab,” ujarnya.
Di tengah kesibukannya menjalani pekerjaan, semangat untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi ternyata belum padam. Mimpi terus menyala di benaknya. Monica pun memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Cenderwasih tahun 2014. “Saya mengambil kelas kuliah kerja, jurusan ekonomi pembangunan mulai tahun 2014 sampai selesai di tahun 2018,” ujarnya.
Ketika masa transisi dari LPMAK menjadi YPMAK, Monica bersama rekan-rekan lainnya kembali mengikuti tes untuk menjadi karyawan YPMAK.
“Dari 37 orang yang namanya diumumkan jadi karyawan, saya bukan salah satu dari 37 itu. Tetapi saya menjadi 15 orang yang dipanggil bergabung bersama teman-teman yang lulus sebagai karyawan YPMAK,” ucapnya.
Awalnya Monica diterima sebagai staf Divisi Monev Ekonomi dan kemudian dipromosikan menjadi Kepala Divisi Monitoring Program Sosial Ekonomi YPMAK.
Monica mengakui, awal ketika menjabat Kadiv dan turun ke lapangan ia memilih lebih banyak dia dan mencatat setiap temuan dalam pelaksanaan program ekonomi masyarakat di kampung.
“Ada hal hal yang kita harus tegas dari sisi aturan dan ada hal yang kita harus bicara dari hati ke hati, karena yang kita layani ini adalah masyarakat,” kata Monica.
Divisi Monev memiliki peran yang sangat krusial dalam pengembangan program pemberdayaan masyarakat. Keberhasilan program juga sangat ditentukan dari laporan hasil monev yang ditemukan di lapangan.
“Saya terus belajar bagaimana melakukan monev dan mengevaluasi hasil-hasil monev. Karena saya yakin masyarakat saya bisa berubah melalui program-program pemberdayaan YPMAK, tentunya ini harus didukung oleh masyarakat penerimaan manfaat,” ujarnya.
Monica tak lupa berpesan kepada generasi muda Kamoro agar tetap semangat dalam mengejar mimpi, tidak putus asa dan selalu bertanggung jawab dengan setiap tugas yang diberikan.
“Harus kerja keras dan mandiri. Dalam bekerja jangan pernah membuat orang lain susah. Karena apa yang kita lakukan ke orang lain, itu juga akan kembali ke kita sendiri,” ujarnya. (ots-2)