Pilih Bahasa :
Ketua Pengurus YPMAK, Leonardus Tumuka (kiri), Kepala Divisi Pemantauan dan Evaluasi Program Ekonomi, Monica Maramku dan Wakil Ketua Pengurus Bidang Pemantauan dan Evaluasi, Hendhaotje Watory menunjukkan VCO hasil buatan mama-mama di Kampung Uta, Mimika Barat Tengah.
TANAH Mimika yang kaya akan keberagaman budaya dan bentang alam, memiliki potensi ekonomi bertebaran dari garis pantai hingga lembah dan puncak gunung. Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) tidak tinggal diam dalam menyikapi peluang ini.
Sebagai mitra masyarakat, YPMAK terus menggali, merencanakan, dan mendorong berbagai inisiatif ekonomi yang berbasis pada potensi lokal yang nyata dan terukur.
“Sekitar tahun 2022 kami kerja sama dengan Uncen, mereka melakukan pemetaan potensi kampung yang ada di seluruh wilayah di Mimika,” ungkap Sekretaris YPMAK, Kristianus Ukago saat menjadi narasumber dalam program talkshow TVRI Papua, Kamis (8/5).
Dari hasil pemetaan itu, terungkap potensi besar yang selama ini tersembunyi di banyak kampung. Potensi tersebut kini menjadi fondasi intervensi YPMAK melalui pendekatan Kelompok Kerja (Pokja) Kampung. Model ini membuka ruang bagi masyarakat untuk menyusun program kerja secara mandiri sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal mereka.
“Pokja kampung ini masyarakat akan membuat sendiri programnya di kampung-kampung dan mereka akan mengusulkan kepada kami di YPMAK bahwa mereka akan melakukan pekerjaan ini. Dari program yang mereka ajukan, kami akan mencairkan dana,” jelasnya.
Lebih dari sekadar dukungan finansial, inisiatif ini memberi dampak ganda: masyarakat memperoleh penghasilan dan menikmati manfaat langsung dari pekerjaan yang mereka rencanakan dan jalankan sendiri.
Wilayah pesisir Mimika menyimpan kekayaan sumber daya yang menjanjikan. Kris menyoroti beberapa sektor unggulan yang telah mulai dikembangkan oleh YPMAK, seperti budidaya kepiting dan produksi minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO).
“Di Kampung Kekwa kita sudah mulai rintis kepiting dan VCO, di Uta sedang kita rencanakan. Mudah-mudahan satu atau dua tahun ke depan bisa terlaksana,” ujarnya penuh optimisme.
Di tengah berbagai tantangan geografis, strategi YPMAK mencakup perencanaan yang utuh dari hulu hingga hilir. Mulai dari proses produksi hingga ke jalur pemasaran.
“Sentuhan kita bagaimana mereka memproduksi dan juga bagaimana mereka memasarkan, itu nanti kita pikirkan. Tentunya kita bergandengan tangan dengan pemerintah membuka jalur akses, terutama untuk transportasi,” jelas Kris.
Biaya logistik ke daerah pesisir dan pegunungan tidaklah murah. Karena itu, kerja sama lintas pihak menjadi kunci untuk membuka keterisolasian, sekaligus memperluas pasar bagi hasil-hasil produksi lokal.
Sementara itu, wilayah pegunungan memiliki potensi yang berbeda namun tidak kalah menjanjikan. Salah satunya adalah pengembangan perkebunan kopi. Menurut Kris, wilayah tinggi memiliki karakteristik yang sesuai untuk budidaya tanaman kopi berkualitas.
“Salah satu yang kita rencanakan adalah pengembangan perkebunan kopi di daerah wilayah gunung. Pemerintah dan PT Freeport juga sudah merencanakan itu dan kami juga akan melakukan rencana,” ujarnya.
Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan YPMAK menjadi fondasi utama agar inisiatif ini berjalan selaras dan berkelanjutan, terutama untuk wilayah yang berhubungan langsung dengan area operasional PT Freeport Indonesia.
Langkah-langkah YPMAK dalam pembangunan ekonomi masyarakat Mimika menandai arah baru ke pemberdayaan yang berbasis pada potensi lokal. Semua dirancang untuk menciptakan siklus ekonomi yang produktif dan berkelanjutan, tanpa meninggalkan masyarakat sebagai aktor utama dari pembangunan itu sendiri.
“Kita dorong supaya pekerjaan yang dilakukan di kampung-kampung lebih produktif, dalam arti mereka melihat potensi dari hasil pemetaan untuk dikembangkan ke sektor ekonomi yang lebih produktif,” tegas Kris.
Dengan pendekatan ini, YPMAK tidak hanya memberikan bantuan, tetapi membuka jalan bagi masyarakat Mimika untuk berjalan dengan kekuatan mereka sendiri – dari pesisir yang kaya laut hingga pegunungan yang menanam harapan dalam biji kopi. (ots-2)