Pilih Bahasa :
KOMITMEN Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) terhadap isu kesehatan lingkungan kembali ditegaskan dalam kegiatan Kick Off Lokakarya Pilar 1 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang digelar di Timika, Selasa (24/6).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya nyata mendukung Pemerintah Kabupaten Mimika dalam mencapai target bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF) pada tahun 2027.
Dalam sambutannya, Deputi Perencanaan Program YPMAK, Billy Korwa menegaskan pentingnya sinergi antara semua pihak demi mewujudkan target tersebut. “Kita memberikan dukungan penuh kepada pemerintah dengan semua sumber daya yang bisa kita lakukan bersama,” ungkap Billy di hadapan para peserta lokakarya.
Apresiasi khusus diberikan kepada Pemkab Mimika melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Mimika yang telah memitigasi program ini melalui integrasi dalam dokumen perencanaan organisasi perangkat daerah (OPD). Langkah ini menjadi fondasi penting agar intervensi yang dilakukan tidak hanya bersifat fisik semata, tetapi juga menyentuh aspek kesadaran masyarakat.
Billy mengingatkan kembali pengalaman YPMAK dalam mendorong pembangunan jamban di kampung-kampung di Mimika sebagai upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Namun, pendekatan infrastruktur tersebut belum sepenuhnya mengubah kondisi kesehatan warga. “Dulu kita genjot bangun jamban di mana-mana, tapi masalahnya kenapa kondisi kesehatan masyarakat tidak menjadi lebih baik,” ujarnya.
Belajar dari pengalaman itu, YPMAK mengubah pendekatannya. Kini, intervensi lebih difokuskan pada edukasi dan perubahan perilaku. Masyarakat diajak memahami dampak negatif dari buang air besar sembarangan, tidak hanya bagi kesehatan individu tetapi juga untuk lingkungan sekitar.
“Mungkin ada 10 orang di kampung yang memiliki harapan berubah. Dari 10 orang ini bisa mempengaruhi sekian orang dalam keluarga untuk membawa perubahan dalam kampung tersebut,” ujar Billy seraya menekankan pentingnya efek domino dari kesadaran individu terhadap perubahan sosial.
Salah satu mitra kunci dalam pelaksanaan program ini adalah Yayasan Rumsram, yang sejak lama telah mendampingi masyarakat melalui program Kampung Sehat YPMAK. Billy menyebut yayasan ini sebagai organisasi yang berpengalaman dalam isu STBM di Papua dan telah mendapat pengakuan luas baik di tingkat nasional maupun internasional. “Soal pengalaman dari yayasan ini tidak diperdebatkan lagi,” ucapnya.
Ajakan kolaborasi juga disampaikan kepada Lembaga Masyarakat Adat Suku Kamoro (Lemasko), Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme (Lemasa), serta para pemangku kepentingan lainnya. Billy menekankan bahwa keberhasilan program menuju Mimika bebas BABS tidak mungkin dicapai tanpa keterlibatan semua pihak.
Dengan langkah-langkah berbasis komunitas yang dikawal secara konsisten, YPMAK memperlihatkan peran aktifnya dalam membangun kesadaran kolektif demi lingkungan yang lebih sehat dan bermartabat. Tahun 2027 sebagai tonggak Mimika bebas BABS bukan sekadar target administratif, tapi gambaran perubahan nyata yang sedang dirintis bersama dari akar rumput. (ots-1/ots-2)