Pilih Bahasa :
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas dan President and Chief Executive Officer (CEO) Freeport-McMoran Kathleen L Quirk ketika mengujungi Sekolah Asrama Taruna Papua. (DOK PTFI)
SUASANA hangat dan penuh semangat di Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) saat menerima kunjungan istimewa dari President and CEO Freeport-McMoRan, Kathleen L. Quirk, dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas.
Dalam kunjungan pada Minggu 18 Mei 2025, keduanya tak sekadar hadir. Keduanya membawa pesan penting bagi generasi muda Papua yakni kunci sukses sejati.
Sekolah yang dibangun Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) ini menjadi rumah bagi anak-anak dari tujuh suku di Mimika. Dalam suasana penuh antusiasme, Tony berbicara langsung kepada para siswa, membagikan nasihat berharga yang tidak hanya menyentuh hati, tapi juga membuka cakrawala berpikir mereka.
Dalam arahannya, Tony menyampaikan Freeport akan terus membantu sekolah untuk kelanjutannya. “Kami akan terus mendukung adik-adik dari tujuh suku. Serta berharap ke depannya adik-adik ini semua bisa bekerja di Freeport Indonesia. Untuk itu, sekolah yang benar, banyak berdoa, terus belajar giat dan suatu saat cita-cita kalian pasti bisa tercapai,” ujar Tony penuh harap.
Tidak hanya janji dukungan, Tony juga menguraikan lima nilai utama yang ia yakini sebagai fondasi menuju keberhasilan. Nilai-nilai ini bukan hanya teori, melainkan prinsip hidup yang ia pegang erat selama memimpin perusahaan besar dan multinasional.
Jujur, Disiplin, Fokus, Tulus, dan Doa. Lima kata ini menjadi mantra yang disampaikannya dengan penuh ketulusan. “Jujur itu artinya kita tidak boleh bohong. Bukan berarti itu hanya dosa, tetapi kalau kita sudah bohong maka sudah tidak dipercaya orang lagi,” tegasnya.
Disiplin terhadap waktu dan tugas yang dijalankan, rencanakan semuanya dengan baik mulai mau tidur sampai menjelang pagi. “Kemudian fokus, teruslah belajar agar kita mengerti dan paham. Kalaupun dalam sekolah ada ekstrakurikuler, namun jangan lupa belajar,” ujarnya.
Tony mengingatkan bahwa belajar bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah bentuk tanggung jawab yang harus dijalani dengan tulus.
“Melakukan hal itu jangan karena pamrih. Tetapi itu suatu keharusan untuk menyelesaikan pekerjaan. Nah, tugas adik-adik adalah belajar dan itu harus dilakukan secara tulus, bukan karena terpaksa atau takut dimarahi orang tua maupun guru. Sehingga kalian harus sadar bahwa sekolah ini harus selesai,” pesannya.
Tony juga menekankan pentingnya spiritualitas sebagai penguat langkah. “Kita harus berdoa agar apa yang diinginkan bisa tercapai,” ucapnya.
Dalam pandangan Tony, kesuksesan bukan hanya soal pencapaian materi. Ia mengutip tokoh ilmuwan ternama sebagai pengingat akan makna hidup yang lebih dalam.
“Ada ucapan dari Albert Einstein bahwa jangan bangga menjadi orang sukses tetapi banggalah kalau bernilai bagi orang lain. Dengan demikian kesuksesan itu bukan untuk kepuasan sendiri. Namun harus memiliki nilai lebih bagi orang lain,” terangnya.
Tony pun mengajak para siswa untuk memiliki wawasan luas, tidak terbatas oleh wilayah geografis. “Adik-adik harus bisa bersaing dengan yang lainnya, apakah itu dari Jawa, Sulawesi, maupun lainnya. Caranya dengan mengubah pola pikir yang maju. Jangan terbelenggu di daerah, tetapi harus meluas, baik itu secara Papua, Indonesia, dan dunia,” pesannya.
Tony menutup pesannya dengan harapan bahwa generasi muda Papua akan menjadi pribadi yang tidak hanya sukses, tetapi juga memberi arti.
Kalau sudah melakukan lima hal tersebut dan siap untuk bersaing, maka kesuksesan sudah pasti di depan mata. “Orang kaya bukan tentu sukses. Tapi bagaimana kita membuat nilai lebih terhadap orang lain. Sehingga sukses itu terwujudnya semua usaha kita dan usaha itu bermakna bagi orang lain,” ungkapnya. (ots-1)