Pilih Bahasa :
Peserta beasiswa YPMAK di Universitas Cenderawasih foto bersama Kepala Divisi Monev Program Pendidikan dan tim usai kegiatan.
BAGI 29 mahasiswa penerima beasiswa YPMAK di Universitas Cenderawasih, kelulusan bukan garis akhir. Di balik perjalanan akademik, ada harapan lebih besar: membawa keterampilan pulang, membangun usaha, dan menciptakan lapangan kerja.
Perguruan tinggi menjadi ruang untuk memperoleh ilmu. Namun, bagi mahasiswa penerima beasiswa Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), masa pendidikan juga dipersiapkan menjadi bekal untuk memasuki kehidupan yang lebih mandiri.
Universitas Cenderawasih (Uncen) memperkuat pembinaan 29 mahasiswa asal Amungme, Kamoro, dan tujuh suku kekerabatan melalui berbagai keterampilan praktis. Pelatihan pembuatan mebel, budidaya ikan lele, pertanian hidroponik, hingga pengolahan limbah menjadi barang bernilai ekonomi mulai diperkenalkan sebagai bagian dari life skill.
“Kami ingin mereka tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga life skill. Kalau dibentuk kelompok kerja, setelah mereka lulus keterampilan itu bisa dikembangkan menjadi usaha,” ujar Vince Tebay selaku Pengelola Beasiswa Uncen.
Vince mengatakan, keterampilan tersebut dapat menjadi modal ketika mahasiswa menyelesaikan kuliah dan kembali ke daerahnya. Pengetahuan yang diperoleh di kampus diharapkan berjalan bersama kemampuan menciptakan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
Pembinaan juga diperkuat melalui penataan kehidupan asrama. Mahasiswa dari Perumnas II dan III dipusatkan ke Perumahan Dosen Uncen Kotaraja. Pola ini memberi ruang bagi dosen untuk melakukan pendampingan lebih intensif, memantau perkembangan akademik melalui portal kampus, sekaligus membangun pembinaan jasmani dan rohani.
“Kami membina mereka baik jasmani maupun rohani. Motivasi kami adalah bagaimana anak-anak ini bisa menjadi pemimpin di kemudian hari,” tegas Vince.
Perjalanan akademik tetap menjadi perhatian utama. Sejumlah mahasiswa mampu mencatat IPK di atas 3,00. Namun, evaluasi berkala juga menemukan tujuh mahasiswa dalam status “waspada” atau berlabel kuning.
Kondisi tersebut segera ditindaklanjuti. Empat mahasiswa diarahkan mengikuti program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), sementara tiga lainnya mendapat pendampingan untuk mengejar penyelesaian studi tahun depan.
“Saat ini untuk tiga anak masih kami follow up supaya bisa mendaftar dan menyelesaikan pendidikannya tahun depan,” ungkap Vince.
Pendekatan ini memperlihatkan pembinaan yang tidak hanya mengejar angka kelulusan. Mahasiswa yang menghadapi kendala akademik tetap diberikan ruang untuk mengejar ketertinggalan dan menyelesaikan pendidikan.
Di sisi lain, kelancaran pendidikan juga membutuhkan dukungan fasilitas. Layanan kesehatan, konsumsi, dan perlengkapan studi menjadi bagian dari kebutuhan mahasiswa selama berada di kampus.
Ketepatan penyaluran dana pembiayaan pada awal semester menjadi perhatian agar seluruh kebutuhan pendukung tersebut dapat berjalan tanpa mengganggu proses belajar.
Pada akhirnya keberhasilan 29 mahasiswa ini tidak hanya diukur dari berapa banyak yang memperoleh ijazah. Lebih jauh, ada harapan mereka keluar dari kampus dengan kemampuan yang dapat digunakan untuk membangun kehidupan sendiri.
Lulus dengan ilmu, pulang membawa keterampilan, dan bila memungkinkan, membuka jalan bagi orang lain untuk bekerja. (ots-1)