Pilih Bahasa :
Tim Monev Program Pendidikan YPMAK foto bersama peserta beasiswa di SMAS Villanova Manokwari, Papua Barat.
JAUH dari Kabupaten Mimika, 59 pelajar penerima beasiswa Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) menjalani hari-hari pendidikan di Manokwari. Mereka datang dengan latar budaya berbeda, membawa kerinduan pada rumah, lalu perlahan menemukan keluarga baru di ruang kelas dan kehidupan asrama.
Pagi hingga sore menjadi waktu untuk belajar. Setelahnya, kehidupan berlanjut di asrama. Mencuci pakaian, mengatur kebutuhan pribadi, memasak, hingga mengikuti jadwal kehidupan bersama menjadi bagian dari proses pendidikan siswa asal Mimika di SMA Katolik Villanova Manokwari, Provinsi Papua Barat.
Bagi 59 penerima beasiswa YPMAK, sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai. Kehidupan jauh dari keluarga memberi pengalaman baru untuk belajar mandiri dan mengenal berbagai karakter serta budaya.
Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi Pendidikan YPMAK, Erlina Etti Timang, hadir langsung untuk melihat perjalanan tersebut. Monitoring tidak hanya menyentuh capaian akademik, tetapi juga kehidupan asrama, fasilitas, kebutuhan siswa, serta pendampingan yang mereka terima.
“Kita ingin melihat secara langsung bagaimana perkembangan anak-anak selama di sekolah, termasuk prestasi akademik, kehidupan di asrama, serta berbagai kebutuhan mereka,” ujar Erlina.
Dalam dialog bersama tim monev, siswa menyampaikan pengalaman masing-masing. Meli Karamoko mengingat masa awal ketika dirinya dan teman-teman masih harus beradaptasi dengan kehidupan asrama. Waktu kemudian membuat mereka semakin terbiasa dengan lingkungan baru.
Fery menyoroti kebutuhan laptop untuk mendukung tugas dan presentasi. Ia sekaligus mengapresiasi fasilitas yang telah tersedia, mulai dari makanan, pakaian, hingga layanan laundry. Tambahan pengawas tetap di asrama juga menjadi salah satu aspirasi siswa.
Di balik berbagai kebutuhan tersebut, ada perubahan karakter yang mulai terlihat.
Kepala Sekolah SMAS Katolik Villanova Manokwari, Fr Natalis M Giovanni Namsa OSA melihat siswa yang datang dari Timika pada awalnya cenderung malu dan pendiam. Kehidupan bersama kemudian perlahan menumbuhkan kemandirian dan kepercayaan diri.
“Anak-anak datang bukan hanya untuk belajar, tetapi juga belajar mengenal budaya dari berbagai suku yang ada di Papua dan Nusantara. Perbedaan ini kami dorong menjadi kekayaan dalam kehidupan mereka,” ujarnya.
Pendidikan di Villanova berjalan dengan pendekatan yang lebih luas. Siswa dilatih mengurus kehidupan sehari-hari sekaligus didorong mengembangkan kemampuan akademik dan nonakademik. Olimpiade menjadi salah satu ruang prestasi, sementara bahasa Inggris, Mandarin, dan Jerman membuka wawasan baru.
“Sekolah bukan hanya mengejar cita-cita dan ilmu, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk kehidupan. Kami melihat anak-anak ini mengalami perkembangan yang baik, termasuk dari nilai rapor dan kepercayaan diri mereka,” ungkapnya.
Bagi Eriton Uamang, siswa kelas XII IPA, lebih dari dua tahun di Villanova meninggalkan pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan pelajaran. Ia belajar mengenal budaya dari berbagai daerah karena siswa dari sejumlah provinsi hidup dan belajar bersama.
“Selama di sini kita tidak hanya mendapatkan materi pelajaran, tetapi juga belajar budaya dari luar. Bukan hanya kami dari Timika, tetapi ada dari beberapa provinsi lainnya,” tuturnya.
Eriton juga mengapresiasi fasilitas makanan, pakaian, laundry, serta pembinaan karakter. Ia berharap masa libur sekolah dapat diisi kegiatan bersama bagi siswa yang tidak dapat pulang ke daerah asal.
Dari 59 siswa tersebut, 11 berasal dari suku Kamoro, 36 Amungme, dan 12 dari lima suku kerabat YPMAK. Jumlah itu menggambarkan sebuah ruang pendidikan yang tidak hanya mempertemukan anak-anak dari berbagai daerah, tetapi juga mempertemukan budaya dalam satu kehidupan bersama.
Monitoring menjadi bagian dari upaya memastikan perjalanan tersebut terus berjalan. Aspirasi siswa, perkembangan akademik, kondisi asrama, serta kebutuhan fasilitas menjadi bahan evaluasi untuk menentukan dukungan berikutnya.
Di Villanova, 59 anak tidak hanya sedang mengejar masa depan. Mere_ka sedang belajar menjadi pribadi yang mampu hidup bersama, berdiri sendiri, dan membawa pengalaman keberagaman itu pulang sebagai kekuatan. (ots-2)