Pilih Bahasa :
Kepala Divisi Monev Program Ekonomi, Monica Maramku (kiri) fototo bersama Pokja Lakahia di kebun pisang yang dikembangkan olek Pokja Program Kampung Lakahia.
PEMBERDAYAAN masyarakat tidak cukup hanya diukur dari seberapa besar bantuan yang diberikan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat mampu menggunakan dukungan tersebut untuk membangun usaha, menciptakan pendapatan, membuka lapangan kerja dan secara perlahan berdiri di atas kekuatan sendiri.
Semangat inilah yang menjadi penting dalam pengembangan Program Ekonomi Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK). Melalui berbagai program pemberdayaan, YPMAK mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi tampil sebagai pelaku utama pembangunan ekonomi di kampungnya.
Pemerhati sosial dan ekonomi Papua, Muhamad A.E. Rumbou SSos MSi mengatakan pemberdayaan ekonomi produktif merupakan upaya meningkatkan kapasitas individu atau kelompok masyarakat agar mampu menciptakan nilai tambah ekonomi secara mandiri, berkelanjutan dan berdaya saing.
Dalam konteks program YPMAK, pendekatan tersebut menemukan relevansinya melalui pengembangan Program Pokja Kampung, UMKM, koperasi sembako, pengolahan pangan lokal serta berbagai usaha berbasis potensi kampung. Orientasinya bukan sekadar memberikan bantuan tunai, melainkan mendorong lahirnya kegiatan yang menghasilkan manfaat ekonomi dan dapat terus dikembangkan.
Di sejumlah kampung, dukungan program diarahkan pada kebutuhan produktif sesuai kondisi masyarakat. Pembangunan rumah, jembatan, perahu fiber, drainase hingga pengembangan usaha pengolahan hasil lokal menjadi bagian dari upaya membangun fondasi ekonomi masyarakat. Di Kampung Uta, misalnya, potensi kelapa dikembangkan menjadi minyak goreng dan Virgin Coconut Oil (VCO). Potensi lokal tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi mulai diarahkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Pendekatan seperti ini penting karena setiap kampung memiliki karakter dan potensi berbeda. Masyarakat pesisir memiliki kekuatan pada sumber daya laut dan transportasi air, sementara masyarakat pedalaman memiliki potensi pertanian, perkebunan, pangan lokal dan hasil hutan. Karena itu, pemberdayaan ekonomi tidak dapat dilakukan dengan pola seragam.
YPMAK perlu terus memperkuat aspek peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pelatihan produksi, pengelolaan keuangan, pemasaran, pengemasan, hingga literasi digital menjadi bagian penting agar usaha masyarakat tidak berhenti setelah bantuan awal diberikan.
Di sisi lain, akses pasar menjadi tantangan yang tidak kalah penting. Produk masyarakat harus memiliki kualitas, kontinuitas dan kemasan yang mampu bersaing. Kemitraan dengan dunia usaha, pemerintah, koperasi maupun perusahaan besar dapat membuka peluang pasar yang lebih luas. Dalam konteks ini, keberadaan YPMAK dapat menjadi jembatan yang menghubungkan potensi masyarakat kampung dengan ekosistem ekonomi yang lebih besar.
Pendampingan dan monitoring juga menjadi kunci. Keberhasilan sebuah program tidak hanya dilihat dari tersalurkannya dukungan, tetapi dari perubahan yang terjadi setelah program berjalan. Apakah usaha berkembang? Apakah pendapatan meningkat? Apakah muncul lapangan kerja baru? Apakah masyarakat semakin mampu mengelola usahanya secara mandiri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar pemberdayaan tidak terjebak dalam pola bantuan yang hanya menyelesaikan kebutuhan jangka pendek.
Program ekonomi YPMAK pada akhirnya memiliki tantangan sekaligus peluang besar. Tantangannya adalah memastikan setiap intervensi benar-benar menghasilkan produktivitas. Peluangnya adalah kekayaan sumber daya alam, pengetahuan lokal dan semangat masyarakat yang dapat menjadi modal penting untuk membangun ekonomi kampung.
Pemberdayaan bukan sekadar memberi “ikan”. Pemberdayaan adalah mengajarkan cara memancing, menyediakan kolam, memperkuat peralatan dan membuka akses pasar.
Dengan pendekatan tersebut, dana kemitraan yang dikelola YPMAK diharapkan tidak hanya menghasilkan kegiatan, tetapi meninggalkan kapasitas, aset produktif, usaha yang hidup dan masyarakat yang semakin mandiri.
Pada akhirnya, keberhasilan pemberdayaan ekonomi YPMAK bukan hanya berapa banyak program yang dilaksanakan, tetapi berapa banyak masyarakat yang mampu berkata bahwa “Kami mampu mengembangkan usaha kami sendiri dan menentukan masa depan kami”. (viktor bhato)