Pilih Bahasa :
Foto bersama usai monev program beasiswa YPMAK di Universitas Cenderawasih di, Jayapura, Papua, Jumat (28/8/2026).
PROGRAM beasiswa YPMAK telah membuka jalan pendidikan bagi mahasiswa Amungme dan Kamoro. Dari pengalaman para penerima manfaat, masih ada sejumlah ruang yang perlu diperkuat agar dukungan pendidikan berjalan lebih tepat waktu dan semakin lengkap.
Bagi mahasiswa, pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) bukan sekadar urusan administrasi. Ketepatan waktu pembayaran menentukan kelancaran aktivitas perkuliahan. Ketika jadwal pembayaran kampus tidak sejalan dengan pencairan dana beasiswa, mahasiswa dapat berada dalam posisi sulit.
Pengalaman tersebut disoroti Yulian Ogoimagai, lulusan Keperawatan sekaligus alumni penerima beasiswa YPMAK. Dalam monitoring dan evaluasi (Monev) YPMAK di Jayapura, ia menyampaikan pentingnya sinkronisasi antara proses pencairan dana dan kalender akademik perguruan tinggi.
“Ketika kampus membuka jadwal pembayaran UKT, proses pencairan anggaran beasiswa kerap terlambat sehingga mahasiswa melewati batas waktu pembayaran,” ungkap Yulian saat Monev YPMAK di Hotel Horison Kotaraja, Jayapura, Papua, Jumat (28/8/2026).
Menurut Yulian, pembenahan administrasi perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap kondisi mahasiswa. Salah satunya terkait kebijakan cuti akademik. Ia menilai persoalan yang membuat mahasiswa harus mengambil cuti perlu dilihat secara bijak sebelum berujung pada penghentian pembiayaan.
“Dalam surat pernyataan, penerima beasiswa yang mengambil cuti satu kali dianggap mengundurkan diri dan hak pembiayaannya langsung dihentikan,” bebernya.
Selain pembiayaan kuliah, fasilitas pendukung menjadi bagian penting dalam menunjang keberhasilan mahasiswa. Laptop dan kebutuhan akademik dapat membantu penerima program mahasiswa berprestasi belajar secara mandiri sekaligus mengikuti tuntutan perkuliahan yang semakin berbasis teknologi.
“Nama programnya berprestasi, maka fasilitas penunjang seperti laptop dan kebutuhan akademik wajib dipenuhi agar mereka bisa belajar mandiri,” ujar Yulian.
Di tengah sejumlah catatan tersebut, Yulian tetap mengapresiasi perjalanan program beasiswa YPMAK sejak 2019. Pelatihan komputer dan Bahasa Inggris menjadi bekal tambahan yang dinilai bermanfaat bagi mahasiswa.
Ke depan, dukungan juga diharapkan tidak berhenti ketika mahasiswa menyelesaikan studi. Jalur penyaluran kerja maupun kesempatan melanjutkan pendidikan dapat menjadi jembatan bagi lulusan berprestasi untuk memasuki tahap kehidupan berikutnya.
Bagi mahasiswa yang belum berhasil masuk program berprestasi karena keterbatasan kuota, skema bantuan alternatif juga diharapkan tetap tersedia.
“Ya, agar seluruh mahasiswa Amungme dan Kamoro berhasil menyelesaikan studi,” pungkas Yulian.
Pada akhirnya kekuatan sebuah program beasiswa tidak hanya terlihat dari jumlah mahasiswa yang dibiayai. Ukurannya juga hadir dari seberapa baik program tersebut menemani mahasiswa sejak memasuki perguruan tinggi, menyelesaikan studi, hingga memiliki kesempatan melangkah menuju masa depan. (ots-1)