Pilih Bahasa :
Bernadus Natani putra Kamoro dari Kampung Tapormai sebuah kampung di pesisir Distrik Mimika Barat Jauh, Kabupaten Mimika.
DI sebuah kampung pesisir di Distrik Mimika Barat Jauh, Kabupaten Mimika, seorang anak Kamoro menghabiskan masa kecilnya dengan mencari ikan demi membantu keluarga. Jalan menuju sekolah tak selalu bisa ia tempuh karena tuntutan hidup. Namun, keterbatasan itu tidak memadamkan mimpinya.
Dialah Bernadus Natani, putra asli Kamoro kelahiran 26 Mei 2004 yang kini tengah menempuh pendidikan di Politeknik Kelautan dan Perikanan (KP) Sidoarjo melalui program beasiswa Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK).
Perjalanan Bernadus menjadi bukti bahwa kesempatan pendidikan mampu mengubah masa depan. Berasal dari Kampung Tapormai, ia mengawali pendidikan di sekolah dasar di kampungnya, melanjutkan ke SMP di Kampung Ararau, kemudian bersekolah di SMK Tunas Bangsa Timika.
Masa kecilnya jauh dari kata mudah. Demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga, Bernadus kerap ikut mencari ikan sehingga beberapa kali harus meninggalkan bangku sekolah.
“Saya dulu cari ikan sampai kadang tidak sekolah. Kelas 4 sampai kelas 5 baru saya masuk sekolah lagi,” kenangnya.
Cobaan semakin berat ketika ayahnya meninggal dunia saat ia masih duduk di bangku kelas 2 SD. Sejak saat itu, sang ibu menjadi sosok yang berjuang seorang diri membesarkan dan mendukung pendidikan anaknya.
Meski tumbuh dalam keterbatasan, Bernadus tidak pernah berhenti bermimpi.
Selain tekun belajar, ia juga mengembangkan bakatnya di bidang olahraga pencak silat. Kerja kerasnya membuahkan hasil dengan meraih juara 2 pada kejuaraan nasional saat masih sekolah, bahkan memperoleh medali emas ketika menempuh pendidikan di SMK.
Semangatnya untuk mengabdi kepada bangsa juga sempat membawanya mengikuti seleksi kepolisian. Ia berhasil lolos tahapan awal, namun keterbatasan biaya membuat langkahnya terhenti. Impian menjadi prajurit TNI pun harus ditunda karena alasan yang sama.
Di tengah berbagai tantangan, kesempatan baru hadir melalui program beasiswa YPMAK. Bernadus diterima di Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo pada Program Studi Agribisnis Perikanan. Baginya, beasiswa tersebut bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan jalan untuk mewujudkan cita-cita dan membangun masa depan yang lebih baik.
Di lingkungan kampus kedinasan, semangat berprestasi terus ia tunjukkan. Saat menjadi taruna tingkat pertama, Bernadus kembali mengharumkan nama kampus dengan meraih juara 2 pencak silat pada ajang Bupati Cup 2025.
Prestasi itu tidak datang secara instan. Setiap hari ia disiplin menjaga kebugaran tubuh dengan rutin berlari dan berlatih fisik.
“Sore saya biasa lari dua putaran untuk latihan fisik,” ujarnya.
Kini Bernadus memilih fokus menyelesaikan pendidikan sekaligus terus mengembangkan potensi diri. Ia berharap semakin banyak generasi muda Amungme dan Kamoro berani bermimpi, memanfaatkan kesempatan pendidikan, dan tidak menyerah pada keadaan.
“Harus disiplin dan terus belajar supaya bisa dapat ilmu yang baik untuk masa depan,” pesannya.
Kisah Bernadus Natani menjadi salah satu potret nyata bagaimana akses pendidikan yang diberikan YPMAK mampu membuka peluang bagi anak-anak asli Papua untuk berkembang, berprestasi, dan mempersiapkan diri menjadi generasi penerus yang siap membangun daerahnya. Melalui semangat pantang menyerah, Bernadus membuktikan bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari kampung kecil, asalkan terus diperjuangkan dengan kerja keras dan disiplin. (ots-1)