Pengelola Dana Kemitraan                Pilih Bahasa :

Dari Timika ke Semarang: Kisah Fitalia Tumuka, Anak Kamoro yang Membuktikan Mimpi Tak Mengenal Batas

Thursday, 09 July 2026
Fitalia Tumuka. IST

MIMIKA — Ada satu keyakinan yang terus dipegang teguh Fitalia Tumuka sepanjang perjalanan hidupnya: kesempatan tidak datang dua kali, dan ketika ia tiba, harus disambut dengan sepenuh hati. Prinsip sederhana itulah yang mengantarkan perempuan muda asal Suku Kamoro ini menembus batas yang selama ini dianggap sulit ditembus banyak anak Papua — meraih gelar sarjana dengan predikat cumlaude di tanah rantau.

Pada 13 Juni 2026, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-24, Fitalia resmi diwisuda sebagai Sarjana Hukum dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. Bukan sekadar toga dan gelar, momen itu adalah puncak dari perjalanan panjang yang dipenuhi ketidakpastian, air mata, dan keberanian untuk terus melangkah meski jalan yang ditempuh jauh dari rencana awal.

Anak Kedelapan yang Percaya pada Pendidikan

Lahir di Timika pada 13 Juni 2002, Fitalia adalah anak kedelapan dari sembilan bersaudara pasangan Anaklitus Tumuka dan Lidia Nawaripi. Dibesarkan dalam keluarga sederhana, ia tumbuh dengan pemahaman bahwa pendidikan bukan sesuatu yang bisa disia-siakan — melainkan kesempatan berharga yang harus diperjuangkan sungguh-sungguh.

Setelah menempuh pendidikan dasar dan menengah pertama di Timika, titik balik hidupnya datang lewat beasiswa dari Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), yang disalurkan melalui Yayasan Pendidikan Kamoro Bangkit (YPKB) dan didampingi Yayasan Binterbusih. Beasiswa itu membawanya ribuan kilometer dari kampung halaman untuk melanjutkan SMA di Semarang.

Ketika Rencana Tak Selalu Berjalan Mulus

Jalan Fitalia bukan tanpa rintangan. Sekolahnya, SMA Santo Mikael Semarang, terpaksa tutup karena kekurangan siswa saat ia duduk di kelas XI — memaksanya berpindah ke SMA Sint Louis di tengah proses adaptasi yang belum sepenuhnya rampung. Ia sempat merasakan kekecewaan, namun memilih untuk terus berjalan.

Ujian berikutnya datang saat ia gagal dalam seleksi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), setelah tiga bulan mengikuti bimbingan belajar intensif di Bandung. Kegagalan itu memaksanya menyusun ulang rencana masa depan di saat pendaftaran kuliah nyaris berakhir. Ia pun mendaftar ke dua kampus — Universitas Katolik Parahyangan Bandung dan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang — dan akhirnya memilih yang kedua, meski awalnya lebih condong ke Bandung.

Keputusan yang sama sekali tak pernah ia rencanakan itu justru menjadi salah satu pilihan terbaik dalam hidupnya.

Menjadikan Relasi sebagai Kekuatan

Di bangku kuliah, Fitalia memegang satu prinsip: jangan takut berkenalan. Ia menyadari empat tahun masa studi bukan hanya soal nilai, tapi juga soal membangun jaringan. Lewat program orientasi mahasiswa baru, ia memaksa dirinya keluar dari zona nyaman, aktif menyapa dan mengenal siapa pun yang ia temui — lintas jurusan, lintas fakultas, bahkan lintas negara.

Kebiasaan itu membuatnya mengenal mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus menjadi bekal penting untuk bertahan jauh dari keluarga.

Tumbuh Jadi Pemimpin

Semangat aktif Fitalia membawanya masuk ke berbagai organisasi dan pelatihan kepemimpinan kampus. Puncaknya, ia dipercaya memimpin tim dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang berhasil menyabet Juara I tingkat fakultas — sebuah pencapaian yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Kiprahnya berlanjut hingga ia dipercaya menjadi Koordinator Bidang Divisi Penalaran. Menurutnya, keberanian tampil dan bersuara di depan umum adalah kunci agar potensi seseorang bisa dilihat dan diakui orang lain.

Mengajar Bahasa Inggris di Vietnam

Salah satu babak paling berkesan dalam perjalanan Fitalia adalah ketika terpilih mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Vietnam — berkat dukungan YPMAK, PT Freeport Indonesia, YPKB, dan Yayasan Binterbusih. Ia bahkan menjadi satu-satunya mahasiswa Fakultas Hukum Unika yang berangkat dalam program tersebut, mengurus sendiri seluruh dokumen keberangkatannya.

Di sana, tugas yang menantinya jauh dari bidang ilmunya: mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Rasa gugup di awal segera luntur oleh kecintaannya pada anak-anak. Pengalaman itu mempertemukannya dengan sesama relawan dari Sri Lanka, Pakistan, Afghanistan, Myanmar, dan berbagai negara lain — memperluas cara pandangnya tentang dunia.

Tufiri di Panggung Akademik

Momen paling membekas datang saat Yudisium Fakultas Hukum dan Komunikasi. Dengan IPK 3,57, Fitalia mendapat kehormatan mewakili teman-temannya menyampaikan pidato — tampil mengenakan Tufiri, mahkota khas masyarakat pesisir Kamoro, di hadapan dosen dan tamu undangan. Sebuah pernyataan sunyi namun kuat: pendidikan tinggi tidak pernah mengharuskan seseorang melepaskan jati dirinya.

“Tidak banyak perempuan Kamoro yang memiliki kesempatan menyandang gelar sarjana,” ujarnya, mengenang rasa syukurnya atas dukungan semua pihak yang telah menyertai perjalanannya.

Mimpi yang Belum Selesai

Gelar cumlaude bukan garis akhir bagi Fitalia. Kini ia tengah mempersiapkan diri mengikuti pelatihan IELTS, sebagai langkah awal menuju cita-cita barunya: melanjutkan studi magister di Belanda dalam bidang Hak Anak Internasional (International Children’s Rights).

Di balik semua pencapaiannya, ia tak pernah lupa pada orang-orang yang menopang perjalanannya — orang tua, YPMAK, YPKB, Yayasan Binterbusih, para dosen, hingga sahabat-sahabat seperjuangan.

Pesannya untuk generasi muda Papua sederhana namun dalam: jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan, karena ruang belajar ada di mana saja — bukan hanya di ruang kelas. Perluas relasi, beranilah keluar dari zona nyaman, dan jangan pernah lupakan orang tua yang selalu mendoakan.

Bagi Fitalia Tumuka, keberhasilan bukan soal seberapa cepat seseorang sampai pada tujuan — melainkan soal keberanian untuk terus melangkah, sekalipun jalan yang ditempuh tak pernah sesuai rencana. (ots-1/miskan)

15 Pembaca
Bagikan ke Sosial Media


Galeri Foto

Publikasi Pelaksanaan Program
Melalui Gambar

Galeri Video


Peta Kantor YPMAK


Alamat Kantor :
Pusat (sekretariat) :
Jalan Yos Soedarso Timika, Mimika – Papua Tengah Kode Pos 99910

Email : humas@ypmak.or.id
Copyright © 2026 | YPMAK Timika – Papua
Semua berita dalam web ini menjadi hak cipta YPMAK Timika