Pilih Bahasa :
Bimbingan belajar yang diikuti 15 anak-anak binaan YPMAK menuju seleksi IPDN.
DI tengah efisiensi anggaran membuat Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) selaku pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI) belum membuka penerimaan peserta beasiswa baru tahun 2026. Namun pihak YPMAK tetap berupaya membuka jalan bagi generasi muda Mimika untuk meraih masa depan melalui jalur pendidikan kedinasan.
Sebanyak 15 putra-putri binaan YPMAK kini tengah dipersiapkan secara khusus melalui program bimbingan belajar intensif sebagai bekal menghadapi seleksi masuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
Wakil Ketua Pengurus YPMAK Bidang Program dan Perencanaan, Feri Magai Uamang mengatakan langkah ini merupakan bagian dari komitmen YPMAK untuk terus mendorong anak-anak Papua meraih kesempatan pendidikan, meski kondisi keuangan saat ini belum memungkinkan adanya rekrutmen peserta baru.
“Tahun ini kami tidak menerima peserta baru, karena kondisi keuangan belum memungkinkan. Tetapi untuk sekolah kedinasan tetap ada dan bukan rekrutmen baru. Karena anak-anak ini adalah binaan YPMAK yang sudah disiapkan sejak bangku SMA,” ungkapnya.
Feri menyebutkan 15 peserta tersebut berasal dari lulusan SMA Lokon Manado dan Jayapura yang selama ini berada dalam pembinaan YPMAK. Demi mengikuti seleksi tes masuk IPDN, saat ini mereka sedang mengikuti program bimbingan belajar melalui kerja sama dengan salah satu lembaga pelatihan di Bandung, Jawa Barat.
Program tersebut diberikan secara intensif dan maraton dalam beberapa pekan terakhir, dengan tujuan untuk mematangkan kesiapan akademik dan mental peserta sebelum mengikuti tahapan seleksi.
Setelah menyelesaikan pembekalan, para peserta akan diberangkatkan ke Jayapura untuk mengikuti seluruh rangkaian seleksi, mulai dari tes administrasi hingga tahapan lanjutan lainnya.
“Untuk wilayah Papua, proses seleksi tetap dilaksanakan di Jayapura. Setelah bimbingan belajar selesai, mereka akan ke sana untuk mengikuti tes,” jelasnya.
Dari total 15 peserta, 10 anak berasal dari SMA Lokon Manado, sementara lima lainnya berasal dari sekolah di Jayapura.
YPMAK menaruh harapan besar agar dari 15 peserta tersebut semakin banyak yang mampu menembus seleksi nasional dan diterima di IPDN.
Pada tahun sebelumnya YPMAK berhasil meloloskan dua peserta ke sekolah kedinasan. Namun pada tahun ini targetnya lebih tinggi.
“Tahun lalu dua anak kita berhasil lolos. Tahun ini kami berharap hasilnya bisa lebih baik dan lebih banyak anak-anak kita yang diterima,” kata Feri.
Menurutnya, perjuangan anak-anak Mimika untuk menembus sekolah kedinasan tidaklah mudah. Selain harus bersaing secara akademik, mereka juga harus berebut kuota yang selama ini sering kali belum berpihak pada putra-putri asli Mimika.
Karena itu, YPMAK berharap kuota yang dialokasikan untuk Kabupaten Mimika dapat benar-benar dimanfaatkan oleh anak-anak Amungme, Kamoro, lima suku kekerabatan, serta Papua lainnya.
“Harapan kami, kuota Mimika tahun ini bisa diisi oleh anak-anak kita. Kalau ada kuota tersisa di daerah lain, semoga anak-anak Mimika juga bisa mendapatkan kesempatan itu,” ujarnya.
Meski fokus utama diarahkan ke IPDN, namun YPMAK juga membuka peluang bagi peserta yang belum lolos untuk diarahkan ke sekolah kedinasan lainnya sesuai potensi masing-masing.
“Kalau ada yang belum berhasil di IPDN tetapi punya peluang di sekolah kedinasan lain, tentu akan kami upayakan. Yang penting mereka tetap punya jalan untuk melanjutkan pendidikan,” tutur Feri.
Langkah ini menjadi bukti bahwa di tengah keterbatasan, YPMAK tetap berupaya menjaga mimpi anak-anak Papua. Melalui pembinaan yang terarah, 15 putra-putri Mimika kini sedang menapaki jalan menuju masa depan, membawa harapan besar untuk kembali mengabdi di tanah kelahirannya. (ots-1)