Pilih Bahasa :
Para pemangku kepentingan lintas stakeholder Program Kampung Sehat foto bersama usai pembukaan pertemuan di Ballroom Swiss-Belinn Timika, Rabu (29/4/2026).
YAYASAN Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di Kabupaten Mimika melalui penguatan kolaborasi lintas sektor.
Langkah ini diwujudkan melalui Pertemuan Lintas Stakeholder Program Kampung Sehat yang digelar selama dua hari, 29-30 April 2026, di Ballroom Swiss-Belinn Timika.
Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan strategis, mulai dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Bappeda, Dinas PUPR, kepala puskesmas dari wilayah intervensi, hingga mitra lokal pelaksana program seperti Yayasan RUMSRAM, Yayasan Papua Lestari (Yapari), dan Yayayan Ekologi Papua (YEP).
Kegiatan ini difasilitasi oleh Yayasan Care Peduli yang berperan sebagai mitra pendamping bagi tiga mitra pelaksana YPMAK di lapangan.
Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Godfried Maturbongs, dalam sambutannya menegaskan bahwa pelayanan kesehatan tidak dapat dijalankan secara terisolasi oleh sektor kesehatan semata. Menurutnya, diperlukan kekuatan kolektif untuk mencapai target kesehatan yang optimal.
“Dalam memberikan pelayanan kesehatan, kita butuh kerja sama tim untuk mencapai satu tujuan. Saya yakin semua yang hadir di sini memiliki visi yang sama, yakni memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat semakin baik,” ujarnya.
Menurut Godfried, tantangan kesehatan saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan dua dekade lalu. Jika dahulu masyarakat hanya datang untuk berobat dan membawa pulang obat, kini kebutuhan telah berkembang mencakup jaminan kesehatan yang menyeluruh dan layanan yang lebih komprehensif.
“Menjawab harapan masyarakat adalah tugas kita bersama. Meski membutuhkan proses dan pendekatan yang berkelanjutan, kita harus terus membangun pemahaman yang sama di lapangan,” ajaknya.
Salah satu poin penting yang disoroti Godfried adalah pentingnya sinkronisasi program agar tidak terjadi irisan atau tumpang tindih intervensi antara pemerintah dan YPMAK di wilayah yang sama.
“Koordinasi yang baik adalah kunci untuk mencegah pendobelan intervensi. Jika terjadi duplikasi, data yang dihasilkan berpotensi tidak akurat. Komunikasi antara puskesmas, pustu, dan Program Kampung Sehat harus dibangun secara intensif agar tercipta sinergi yang jelas,” tegasnya.
Ia berharap pertemuan ini menghasilkan kesepakatan bersama yang menjadi pedoman teknis bagi tenaga kesehatan maupun mitra program guna menghindari kesalahpahaman di lapangan.
Hal senada diutarakan Deputi Program YPMAK, Billy Korwa, yang menekankan kolaborasi kini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan dalam pelayanan publik.
“Pelayanan kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Penting bagi kita untuk menjaga suasana kerja yang nyaman dan efektif agar setiap pihak dapat berkontribusi positif bagi masyarakat,” tegas Billy.
Sejak bertransformasi dari LPMAK menjadi YPMAK, yayasan ini memposisikan diri sebagai mitra pendukung (supporting partner) pemerintah daerah, dengan pemerintah tetap berperan sebagai leading sector di berbagai bidang pembangunan.
YPMAK mendorong seluruh mitra pelaksana Program Kampung Sehat untuk memperkuat koordinasi di kampung-kampung dampingan.
Billy pun memaparkan visi besar ke depan untuk menciptakan sebuah percontohan nyata.
“Kami berharap ke depan lahir satu kampung yang menjadi model percontohan hasil kolaborasi sukses antara Pemda dan YPMAK. Model ini nantinya dapat direplikasi ke kampung lain dengan penyesuaian kondisi topografi Mimika yang beragam, mulai dari pegunungan hingga wilayah pesisir,” pungkas Billy.
Melalui forum ini, seluruh stakeholder diharapkan memiliki kesamaan persepsi dalam menjalankan program, memastikan setiap langkah benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, dan menghadirkan dampak nyata bagi kesehatan warga di kampung-kampung intervensi. (ots-1)