Pilih Bahasa :
Kepala Divisi Sosial Ekonomi YPMAK Oktovian Jangkup menyerahkan kunci kios kepada Ny. Yusinta Wayawiyita pemilik Unurpa Mart. (Foto : ots-1)
LANGKAH nyata pemberdayaan ekonomi terus dilakukan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) selaku pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia.
Langkah ini diawali dengan penyerahan kunci kios kelontong kepada empat warga binaan sebagai bagian dari penguatan usaha mikro masyarakat asli Mimika, pada Kamis (5/3).
Penyerahan kunci ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan Finansial Literacy Program (FLP) yang sebelumnya dilaksanakan YPMAK bersama sejumlah mitra pendukung, yakni Bank Tabungan Negara (BTN), Institut Jambatan Bulan (IJB), dan CV Amungsa Gemilang.
Empat kios yang menerima kunci pada tahap ini adalah Omawita Mart milik Yuliana Sawakurpi di Jalan Busiri, Jalur 4, Kelurahan Inauga, Distrik Wania. Unurpa Mart milik Yusinta Wayawiyita di Jalan Epo’o, Kelurahan Koperapoka, Distrik Mimika Baru. Buginme Mart milik Agus Jamampa di Jalan Poros, SP12, Kelurahan Utikini Baru. Nok Hin Womie milik Lewi Onawame di Jalan Poros SP5, Kelurahan Limau Asri.
Kepala Divisi Sosial Ekonomi YPMAK, Oktovian Jangkup mengatakan program kios kelontong ini dirancang untuk memberdayakan 20 orang dari Suku Amungme dan Kamoro agar tumbuh menjadi pengusaha mandiri.
“Gelombang pertama sudah 10 binaan yang dibangun dan beroperasi. Untuk gelombang kedua ini, empat kios kita mulai dan hari ini dilakukan penyerahan kunci. Sebelum menerima kunci, para binaan sudah mendapatkan pembekalan bagaimana mengelola dan menjaga usaha, serta memelihara kios agar bisa bertahan dan berkembang,” ujarnya.
Pembangunan kios kelontong ini bukan sekadar menghadirkan bangunan fisik, tetapi menjadi simbol kemandirian ekonomi masyarakat Amungme dan Kamoro, agar benar-benar menjadi tuan di atas negeri sendiri, khususnya dalam sektor ekonomi kerakyatan.
“Dengan penyerahan kunci itu, total 14 kios binaan YPMAK kini telah beroperasi. Sementara enam kios lainnya akan segera menyusul untuk diserahkan kuncinya agar dapat segera melayani masyarakat,” tuturnya.
Oktovian berpesan kepada para pemilik kios agar memiliki rasa tanggung jawab dan rasa memiliki terhadap usaha yang telah dipercayakan. Terlebih harga barang di kios binaan relatif lebih terjangkau sehingga mampu membantu kebutuhan warga sekitar.
“Kalau kios dibuka setiap hari, bahkan 24 jam, tentu pendapatan akan meningkat. Apalagi dua kios yang baru dibuka berada di tengah kota, peluangnya sangat besar,” ungkapnya optimistis.
Melalui program ini, YPMAK menegaskan komitmennya dalam mendorong pemberdayaan ekonomi berkelanjutan, memperkuat kemandirian keluarga, sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat asli Mimika dari kampung hingga pusat kota. (ots-1)