Pengelola Dana Kemitraan                Pilih Bahasa :

Mama-mama Pesisir Mimika Siap Kembangkan Usaha VCO

Friday, 27 March 2026
Mama-mama Kamoro saat mengikuti pelatihan pembuatan minyak goreng kelapa dan VCO yang digelar Divisi Sosial Ekonomi YPMAK. (Foto : Miskan)

PELATIHAN pengolahan kelapa menjadi minyak goreng kelapa dan Virgin Coconut Oil (VCO) atau minyak kelapa murni yang digelar Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), membuka harapan baru bagi mama-mama di wilayah pesisir Mimika.

Pelatihan yang digelar selama empat hari (25-28 Februari 2026), para peserta tidak hanya belajar teknik produksi, tetapi juga melihat peluang ekonomi dari kelapa yang selama ini hanya dijual mentah.

Selain itu, pelatihan juga membawa semangat baru dan ini tampak di wajah para peserta yang didominasi perempuan. Salah satunya Mama Amalia Murana dari Kampung Uta yang mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru selama mengikuti kegiatan tersebut.

Sebelum mengikuti pelatihan, dirinya bersama yang lain di kampung sudah  membuat minyak kelapa secara tradisional. Namun prosesnya masih sederhana sehingga hasilnya belum maksimal.

“Kami sudah buat minyak kelapa dengan cara manual pakai tangan sendiri. Hasilnya kadang tidak terlalu bagus,” tutur Amalia di sela-sela pelatihan.

Setelah mengikuti pelatihan, ia mulai memahami proses yang lebih baik dalam mengolah kelapa. Mulai dari memarut kelapa, memeras santan, hingga memisahkan minyak dari ampas dan air agar menghasilkan minyak yang lebih berkualitas.

Mama Amalia juga menyadari bahwa penggunaan mesin pemeras dapat menghasilkan minyak yang lebih banyak dan kualitasnya lebih baik dibandingkan cara manual.

“Kalau pakai mesin hasilnya lebih bagus dan lebih banyak,” ucapnya dengan penuh semangat.

Mama Amalia berencana membawa ilmu yang diperolehnya ke Kampung Uta. Ia ingin mengajak mama-mama lain untuk bersama-sama memproduksi minyak kelapa sebagai usaha rumahan.

“Saya senang, karena pulang ke kampung sudah punya pengetahuan baru. Nanti saya ajak mama-mama lain supaya  buat minyak kelapa bersama,” ujarnya dengan penuh haru.

Namun demikian, ia mengakui masih ada beberapa kendala di kampung, seperti keterbatasan alat produksi dan ketersediaan air bersih yang sebagian besar masih mengandalkan air hujan.

Selain itu, kemasan produk juga masih sederhana dengan menggunakan botol bekas air mineral.

Ke depan,Mama Amalia berharap ada dukungan untuk kemasan yang lebih baik agar minyak kelapa yang diproduksi bisa dipasarkan secara lebih luas.

Meski dengan keterbatasan tersebut, minyak kelapa yang dihasilkan ternyata sudah diminati oleh masyarakat yang datang berkunjung ke kampung.

“Kalau ada orang berkunjung, biasanya mereka beli. Botol ukuran 300 mililiter biasa dijual Rp100 ribu,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Mama Elisabeth Takati dari Kokonao. Ia mengaku pelatihan tersebut membuka wawasan baru bagi masyarakat pesisir dalam memanfaatkan kelapa yang selama ini hanya dijual mentah kepada pengusaha.

“Saya sangat senang karena sebelumnya tidak tahu kalau kelapa bisa dibuat minyak seperti ini,” ujarnya.

Menurut Mama Elisabeth, kelapa sebenarnya sangat melimpah di wilayah pesisir. Namun masyarakat belum memiliki pengetahuan untuk mengolahnya menjadi produk yang bernilai ekonomi dan biasanya hanya dijual buah kelapa per biji kepada pembeli.

Karena itu, ia bertekad untuk membagikan ilmu yang diperoleh kepada masyarakat di kampungnya.

“Saya akan kembali ke kampung dan ajarkan kepada masyarakat lain supaya mereka juga bisa membuat minyak kelapa,” tutur Elisabeth.

Pendampingan Binaan

Sementara Kepala Divisi Sosial Ekonomi YPMAK, Oktovian Jangkup mengatakan, setelah pelatihan YPMAK dan PT Dorei Kelapa Mandiri akan menindaklanjuti dengan mengunjungi langsung ke wilayah binaan. Tujuannya memastikan apakah potensi kelapa di daerah itu dapat dikembangkan sebagai lokasi produksi minyak goreng kelapa dan VCO secara berkelanjutan.

“Melalui kunjungan ini kita ingin melihat langsung bagaimana potensi kelapa yang ada, apakah bisa dikelola menjadi produksi minyak goreng kelapa dan VCO,” ujarnya.

Setelah melakukan kunjungan lapangan, tim akan menyusun analisis terhadap potensi pemanfaatan kelapa di wilayah tersebut. Analisis itu akan menjadi dasar untuk mengetahui tingkat kebutuhan serta kualitas bahan baku yang tersedia.

“Dari hasil analisa itu, bisa diketahui kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi untuk mendukung produksi, apakah mesin ataupun peralatan lainnya,” ucapnya 

YPMAK berharap pengetahuan yang diperoleh peserta selama pelatihan dapat langsung dipraktikkan secara nyata. Produksi minyak kelapa dan VCO diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan dan menjadi sumber peningkatan ekonomi masyarakat.

Pada tahap awal produksi, YPMAK juga akan terus melakukan pendampingan kepada kelompok usaha agar mampu mengelola usaha secara mandiri.

Oktovian juga menilai wilayah pesisir memiliki potensi kelapa yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Bahkan ke depan, hasil produksi minyak kelapa dan VCO dari masyarakat diharapkan dapat menembus pasar yang lebih luas hingga ke luar negeri (ekspor). (ots-1)

79 Pembaca
Bagikan ke Sosial Media


Galeri Foto

Publikasi Pelaksanaan Program
Melalui Gambar

Galeri Video


Peta Kantor YPMAK


Alamat Kantor :
Pusat (sekretariat) :
Jalan Yos Soedarso Timika, Mimika – Papua Tengah Kode Pos 99910

Email : humas@ypmak.or.id
Copyright © 2026 | YPMAK Timika – Papua
Semua berita dalam web ini menjadi hak cipta YPMAK Timika