Pilih Bahasa :
Direktur PT Dorei Kelapa Mandiri, Diah Miryam Mamoribo ketika memberikan pelatihan produksi minyak goreng kelapa dan VCO berbasis potensi lokal. (Foto: Miskan)
AROMA kelapa segar menyambut setiap proses yang berlangsung. Di tangan-tangan terampil masyarakat, bahan sederhana itu perlahan berubah menjadi produk bernilai tinggi. Bukan sekadar minyak, melainkan simbol perubahan menuju kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Upaya ini diinisiasi oleh Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) melalui pelatihan produksi minyak goreng kelapa dan Virgin Coconut Oil (VCO). Program ini dirancang dengan pendekatan teknologi tepat guna yang sederhana, efisien, dan berkelanjutan, menyasar kelompok binaan agar mampu mengolah sumber daya alam di sekitarnya secara optimal.
Pelatihan berlangsung selama empat hari, 25–28 Februari 2026, dan diikuti 20 peserta dari Kampung Uta, Kaokonao, dan Timika. Selama kegiatan, peserta tidak hanya belajar teori, tetapi langsung mempraktikkan setiap tahapan produksi—mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses akhir yang menghasilkan minyak berkualitas.
Untuk memastikan kualitas pelatihan, YPMAK menggandeng PT Dorei Kelapa Mandiri, perusahaan yang telah berpengalaman dalam produksi sekaligus ekspor VCO ke pasar Timur Tengah. Kolaborasi ini menghadirkan pengetahuan praktis sekaligus wawasan pasar yang membuka peluang lebih luas bagi masyarakat.
Direktur PT Dorei Kelapa Mandiri, Diah Miryam Mamoribo mengatakan, pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat agar kelapa tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
“Kelapa memiliki manfaat besar bagi kesehatan, ekonomi keluarga, dan lingkungan. Melalui pelatihan ini peserta dibekali keterampilan praktis untuk memproduksi minyak goreng kelapa dan VCO secara mandiri,” ujarnya.
Pendekatan yang digunakan dalam pelatihan ini menitikberatkan pada teknologi tepat guna—mudah diterapkan, tidak bergantung pada peralatan mahal, dan sesuai dengan kondisi lokal. Dengan metode tersebut, masyarakat didorong untuk mampu memproduksi secara higienis dan konsisten.
Menurut Diah, teknologi yang digunakan merupakan teknologi tepat guna, yakni sederhana, efisien, mudah diterapkan, dan sesuai dengan kondisi lokal. Dengan pendekatan ini, peserta (masyarakat) diharapkan mampu menghasilkan produk secara higienis dan konsisten tanpa bergantung pada peralatan mahal maupun sistem yang rumit.
Lebih jauh, aspek keberlanjutan menjadi perhatian utama dalam setiap proses produksi. Pengolahan dirancang ramah lingkungan, meminimalkan limbah, serta memanfaatkan seluruh bagian kelapa secara bijak—sebuah langkah kecil yang berdampak besar bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat.
Ia menambahkan, aspek keberlanjutan juga menjadi fokus utama, di antaranya proses produksi yang ramah lingkungan, meminimalkan limbah, serta memanfaatkan seluruh bagian kelapa secara bijak.
“Kami berharap peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga terdorong mengembangkan usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Pengurus YPMAK, Leonardus Tumuka menegaskan, pengembangan VCO merupakan bagian dari visi besar lembaga dalam mengoptimalkan potensi lokal, khususnya di wilayah pesisir yang kaya akan sumber daya kelapa, namun belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Melalui pelatihan ini masyarakat dapat memahami nilai ekonomi kelapa dan mengolahnya menjadi produk yang bernilai jual,” ujarnya.
Leonardus juga menyoroti pentingnya perubahan pola pikir dalam mengelola sumber daya alam. Bukan lagi sekadar mengambil hasil, tetapi mulai menanam, merawat, dan memanfaatkan secara berkelanjutan demi masa depan.
“Kita harus mulai menanam dan mengelola sumber daya secara bijak agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” katanya.
Langkah ini bukan hanya tentang produksi VCO, tetapi juga tentang membangun fondasi ekonomi baru bagi masyarakat pesisir Mimika. Pelatihan ini diharapkan melahirkan pelaku usaha mandiri yang mampu mengembangkan potensi lokal menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Ke depan, YPMAK juga merancang pengembangan program ekonomi lainnya, termasuk komoditas kopi di wilayah pegunungan. Upaya ini diarahkan untuk menciptakan keseimbangan pembangunan antara pesisir dan pegunungan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara merata.
“Selain kelapa, YPMAK berencana mengembangkan program ekonomi lain di wilayah pegunungan, yakni program kopi. Ini dilakukan, guna menciptakan keseimbangan pembangunan antara pesisir dan pegunungan,” ungkapnya.
Dari pelatihan sederhana ini, harapan besar mulai tumbuh. Setiap tetes minyak yang dihasilkan menjadi bukti, potensi lokal yang dikelola dengan pengetahuan dan ketekunan mampu membuka jalan menuju kesejahteraan yang lebih luas. (ots-1)