Pilih Bahasa :
Siswa kelas 1 saat menampilkan gerak dan lagu dalam pentas seni Literasi Budaya yang digelar SATP. (DOK SATP)
SUASANA hall 2 Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) pagi itu terasa berbeda. Derap langkah kecil, tawa riang, dan irama lagu daerah berpadu dalam pentas “Literasi Budaya dalam Gerak dan Lagu” yang dibawakan murid-murid kelas 1, pada Sabtu (14/2).
Dengan kostum warna-warni dan properti sederhana hasil karya sendiri—ikat kepala dan tauri—anak-anak kelas 1B hingga 1H menari, bernyanyi, serta membawakan cerita rakyat Papua dengan penuh semangat.
Raut wajah-wajah mungil itu tersirat kebanggaan yang tumbuh perlahan, tentang siapa diri mereka dan dari mana mereka berasal.
Pada pentas itu, anak-anak tampil penuh ceria. Ada anak-anak yang melangkah mantap ke tengah panggung. Tetapi ada pula yang sempat malu-malu dan ragu. Namun, tepuk tangan guru dan sesama murid membuat mereka berani menuntaskan setiap penampilan. Tepuk tangan itu bukan sekadar apresiasi, melainkan energi yang menumbuhkan rasa percaya diri di usia yang masih sangat belia.
Pentas itu bukan sekadar pertunjukan seni. Melainkan bagian dari proses pembelajaran berbasis Montessori yang diterapkan di SATP, sekolah milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK).
Melalui pendekatan Montessori, pembelajaran tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter, kemandirian, dan kepercayaan diri anak. Literasi budaya diperkenalkan melalui gerak, lagu, dan aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Di sinilah budaya tidak diajarkan sebagai hafalan, melainkan dihidupkan lewat pengalaman.
Wakil Kepala Perwakilan Yayasan Pendidikan Lokon (YPL) Bidang Pendidikan, Oktavianus Vic Rori menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya soal kecerdasan, tetapi juga pembentukan sikap tanpa meninggalkan akar budaya.
“Penting untuk mengubah sikap tanpa mengabaikan budaya tempat anak tumbuh dan berkembang. Apa yang mereka tampilkan adalah hasil proses di dalam kelas serta bentuk pengekspresian diri dengan penuh rasa bangga,” jelasnya.
Oktavianus mengapresiasi tim Montessori yang dinilai sejalan dengan konsep pendidikan YPL dalam membangun pondasi karakter sejak dini. “Pengalaman sederhana seperti tampil di panggung akan jadi kenangan yang membekas hingga dewasa,” ujarnya.
Sementara Kepala SATP, Sonianto Kuddi mengungkapkan siswa kelas 1 baru efektif mengikuti pembelajaran sejak September 2025 lalu. Sebagian besar anak-anak itu tidak melalui jenjang taman kanak-kanak (TK) dan berasal dari wilayah pesisir maupun pegunungan dengan kecenderungan kinestetik—gaya belajar dan kecerdasan yang mengandalkan aktivitas fisik, sentuhan, dan pengalaman langsung untuk memproses informasi (learning by doing)—yang kuat.
“Kurang lebih empat bulan pembelajaran efektif, tapi mereka sudah mampu tampil luar biasa. Ini bukti pembelajaran terintegrasi dengan Montessori berjalan efektif,” ungkapnya.
Soni mengatakan tujuan kegiatan tersebut bukan sekadar menunjukkan perkembangan siswa, tetapi memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri secara alami melalui pembelajaran yang terhubung dengan budaya dan lingkungan mereka.
“Anak-anak belajar mandiri, bekerja sama, menghargai teman, sekaligus bangga terhadap identitasnya sebagai anak Papua,” tuturnya.
Ketua panitia, Maria Juita Jaiman menambahkan bahwa persiapan kegiatan dilakukan sekitar satu bulan dengan pendampingan guru. Siswa dilatih mengenal lagu daerah, berlatih tarian, hingga membuat properti sendiri.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan rasa percaya diri, rasa bangga, dan keberanian siswa untuk tampil di depan umum,” ucapnya.
Proses tersebut membuahkan hasil manis. Meski masih duduk di bangku kelas 1, anak-anak mampu menunjukkan keberanian dan kekompakan yang mengharukan.
Pentas sederhana di hall sekolah itu pun menjadi ruang kecil yang menyimpan makna besar: tentang pendidikan yang memanusiakan, membumi, dan berakar pada identitas.
“Ke depan, pembelajaran berbasis literasi budaya di SATP diharapkan terus dikembangkan sebagai sumber pengetahuan sekaligus wadah kreativitas siswa,” ujarnya. (ots-1/ots-2)