Pilih Bahasa :
DI tengah tuntutan pelayanan kesehatan yang meningkat, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) terus berbenah.
Tidak lagi ingin sepenuhnya bergantung pada dana dari Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) sebagai pemilik, RSMM kini melangkah menuju kemandirian dengan berbagai strategi penguatan layanan dan pembiayaan.
Direktur RSMM, dr Henry Roy SPb menjelaskan, tantangan rumah sakit saat ini bukan hanya soal memberikan pelayanan terbaik, tetapi juga menjaga keberlanjutan operasional.
“Kami dituntut untuk mencari sumber penghasilan lain selain dari YPMAK. Salah satunya melalui optimalisasi pelayanan BPJS Kesehatan, kerja sama dengan asuransi lain, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah,” kata Henry, Selasa (10/2).
BPJS Kesehatan menjadi salah satu tulang punggung pembiayaan layanan. Sebagai program nasional yang wajib dimiliki seluruh warga negara, cakupan BPJS sangat luas dan memberikan peluang besar bagi rumah sakit untuk memperluas akses layanan.
Selain itu, RSMM juga membuka peluang bagi pasien yang memiliki asuransi tambahan untuk meningkatkan kelas perawatan sesuai kebutuhan dan kenyamanan mereka.
Dalam regulasinya, RSMM mengikuti kebijakan pemilik, di mana dua suku besar Amungme dan Kamoro dapat dijamin melalui skema tertentu.
Sementara untuk lima suku kekerabatan lainnya, terdapat pengaturan khusus, termasuk kerja sama dengan pemerintah daerah seperti Pemda Puncak dan Intan Jaya, agar pasien tetap memperoleh akses layanan kesehatan.
Data pelayanan menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap RSMM. Sepanjang 2025, jumlah pasien rawat jalan berkisar antara 5.000 hingga 6.000 orang per bulan. Sementara pasien rawat inap mencapai 900 hingga 1.000 orang setiap bulan.
“Puncak peningkatan pasien terjadi pada 2023 hingga 2024, meskipun pada 2025 sempat terjadi penyesuaian dan sedikit penurunan,” ungkapnya.
Renovasi besar yang dilakukan untuk memenuhi standar kamar rawat inap BPJS sempat berdampak pada kapasitas layanan. Selama dua hingga tiga bulan, beberapa ruang perawatan ditutup sementara sehingga pasien yang membutuhkan rawat inap harus dirujuk ke RSUD.
“Kami tidak ingin pelayanan terhenti. Meski ruang terbatas karena renovasi, pasien tetap harus dilayani,” ujarnya.
Kini, tiga ruang perawatan telah selesai direnovasi pada Desember lalu, dan satu ruang lainnya masih dalam proses. RSMM optimistis, dengan fasilitas yang semakin sesuai standar BPJS, jumlah pasien akan kembali meningkat.
Namun bagi manajemen, tujuan utama bukan sekadar mengejar angka kunjungan. Target mereka adalah mencapai titik impas atau break even point (BEP), di mana pendapatan dan pengeluaran seimbang.
“Kami memang memiliki misi sosial, tetapi keberlanjutan rumah sakit juga harus dipikirkan. Karena itu kami melakukan efisiensi pengeluaran dan diversifikasi sumber pendapatan,” tegasnya.
Upaya efisiensi dilakukan tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Sementara di sisi pendapatan, RSMM terus menjajaki kerja sama baru, baik dengan pemerintah daerah maupun pihak asuransi lainnya.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa RSMM tidak hanya hadir sebagai institusi pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai lembaga yang terus beradaptasi demi masyarakat Mimika dan sekitarnya.
Di balik angka-angka statistik pasien dan laporan keuangan, ada semangat besar untuk memastikan setiap orang tetap mendapatkan haknya atas layanan kesehatan yang layak.
Kemandirian bukan sekadar target finansial bagi RSMM. “Ini adalah wujud tanggung jawab agar pelayanan tetap berjalan hari ini, esok, dan di tahun-tahun mendatang,” ungkapnya. (ots-1/ots-2)