Pilih Bahasa :
Senior Vice President Sustainable Development PT Freeport Indonesia, Nathan Kum menyampaikan sambutan dalam Kick Off Rencana Induk Pengembangan RSMM.
DI sebuah ruangan pertemuan di Hotel Horison Diana Timika, Senin (16/2), semangat pembaruan itu terasa kuat. Para pemangku kepentingan berkumpul dalam agenda Kick Off Rencana Induk Pengembangan RSMM—sebuah langkah strategis yang menandai babak baru perjalanan Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika.
Melalui momen tersebut, PT Freeport Indonesia kembali menegaskan komitmennya terhadap peningkatan layanan kesehatan masyarakat Papua. Rumah sakit yang berdiri sejak 1998 itu kini didorong untuk bangkit, bertransformasi, dan tetap relevan di tengah pertumbuhan fasilitas kesehatan yang semakin pesat di Mimika.
Senior Vice President Sustainable Development PT Freeport Indonesia, Nathan Kum menekankan proses pembenahan RSMM bukanlah keputusan instan.
“Kalau sesuatu dilakukan terlalu cepat, hasilnya tidak akan maksimal. Kita ingin keputusan yang benar-benar kuat untuk masa depan,” terangnya.
Menurut Nathan, proses menuju rencana induk ini telah berjalan sekitar satu tahun. Berbagai kajian dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar langkah yang diambil benar-benar berdampak jangka panjang.
Ketika RSMM berdiri pada 1998, wajah layanan kesehatan di Timika masih sangat terbatas. Rumah sakit ini menjadi tumpuan utama masyarakat dari berbagai wilayah. Dalam banyak situasi, RSMM hadir sebagai satu-satunya harapan bagi warga yang membutuhkan perawatan medis, dari layanan dasar hingga operasi besar.
Namun waktu berjalan, kota berkembang. Klinik, apotek, dan rumah sakit lain bermunculan. Pilihan masyarakat semakin beragam, dan kompetisi pun tak terelakkan.
“Dulu semua orang datang ke satu tempat (RSMM). Sekarang pilihan semakin banyak. Karena itu RSMM harus bertransformasi agar tetap dipercaya masyarakat,” jelasnya.
Transformasi yang dimaksud bukan sekadar perbaikan fisik bangunan atau penambahan alat medis. Lebih dari itu, menyangkut cara pandang dan komitmen terhadap mutu layanan.
Nathan mengingatkan bahwa rumah sakit bukan hanya institusi kesehatan, melainkan ruang kemanusiaan.
“Di rumah sakit, semua manusia sama datang dalam kondisi sakit dan berharap pulang sehat. Karena itu kualitas pelayanan harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa inti dari pembenahan RSMM adalah kualitas layanan. Kepercayaan masyarakat tidak bisa dibangun hanya dengan fasilitas, tetapi melalui pelayanan yang profesional, ramah, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Selama ini RSMM telah memberikan layanan kesehatan luas bagi masyarakat, khususnya warga di Kabupaten Mimika dan sekitarnya. Tidak sedikit pasien yang mendapatkan pengobatan hingga operasi besar tanpa biaya. Peran sosial ini menjadi identitas kuat yang harus tetap dijaga.
“Rumah sakit ini hadir untuk masyarakat. Komitmen itu harus tetap dijaga dan diperkuat,” ujarnya.
Pembenahan yang dilakukan diharapkan tidak hanya membuat RSMM bertahan, tetapi juga mampu bersaing bahkan di tingkat nasional.
“Oleh karena itu, pentingnya dukungan semua pihak agar RSMM mampu bersaing dan tetap menjadi pilihan utama masyarakat Mimika,” tegasnya.
Dalam pelaksanaan Rencana Induk Pengembangan RSMM, Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) menggandeng PT Ligar Mandiri Indonesia sebagai pendamping komite seleksi untuk mencari mitra pengelola dan pengembangan RSMM.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar untuk memastikan tata kelola yang profesional dan berkelanjutan. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, hasil penyusunan Rencana Induk Pengembangan dan seleksi pengelola baru RSMM ditargetkan rampung sebelum tahun 2027.
Di tengah dinamika perubahan, satu hal yang tetap, RSMM lahir untuk masyarakat. Kini, di tengah persaingan dan tuntutan zaman, rumah sakit ini diharapkan kembali menegaskan jati dirinya—bukan hanya sebagai bagian dari sejarah kesehatan Mimika, tetapi juga sebagai institusi yang siap menjawab masa depan. (ots-1)