Pilih Bahasa :
Mahasiswa penerima beasiswa YPMAK yang kuliah di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, foto bersama Deputi Monev YPMAK Fransiskus Xaverius Wanmang dan tim, saat berkunjung ke kampus itu, Kamis (28/8).
SUASANA ruang kelas di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Kamis (28/8) itu penuh semangat. Andreas Onawame, salah seorang mahasiswa penerima beasiswa Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), tampak percaya diri saat menceritakan pengalaman mengikuti program matrikulasi sebelum resmi menyandang status mahasiswa.
“Program itu sangat membantu sekali, karena saat pertama kami datang, kemampuan literasi dan numerasi kami sangat kurang,” ungkapnya.
Bagi Andreas, matrikulasi bukan sekadar pelajaran tambahan, tetapi jembatan penting yang memudahkannya memahami dunia perkuliahan. Di sana, Andreas dan rekan-rekannya diajarkan keterampilan dasar membaca artikel, menulis, hingga menguasai materi numerasi seperti perkalian, pembagian, dan aljabar.
Tahun 2025 ini, Andreas bersama empat rekannya resmi tercatat sebagai mahasiswa Universitas Sanata Dharma. “Melalui program ini saya lebih siap untuk masuk kuliah dan bersaing dengan teman-teman saya di sini,” ucapnya dengan mata berbinar.
Program matrikulasi di Sanata Dharma tidak hanya mengasah kemampuan akademik. Andreas dan rekan-rekannya juga mendapat pembekalan tentang cara mengelola dana beasiswa dengan baik. Pembekalan ini membuat mereka merasa lebih siap, bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai individu yang mandiri.
Staf Biro Kerja Sama dan Hubungan Internasional Universitas Sanata Dharma, W Sudrajad Ari Nugroho menye ut saat ini tercatat tujuh mahasiswa penerima beasiswa YPMAK di kampus itu.
“Dua yang lama dan lima yang baru. Lima yang baru ini secara akademik angkatan 2025, tetapi mereka masuk ke sini 2024 dan mengikuti program matrikulasi selama satu tahun,” jelasnya.
Menurut Sudrajad, tanpa matrikulasi, mahasiswa akan menghadapi banyak kesulitan saat mengikuti kuliah reguler. “Jadi, disiapkan dulu sehingga saat memakai kurikulum umum, nanti mereka sudah siap,” ujarnya.
Selain itu, para mahasiswa juga dibekali keterampilan hidup. “Porsinya kita ajarkan seimbang, akademik ada dan keterampilan hidup (living skill) juga diajarkan,” jelas Sudrajad.
Kesempatan emas itu datang dengan tanggung jawab besar. Deputi Monitoring dan Evaluasi YPMAK, Fransiskus Xaverius Wanmang, mengingatkan mahasiswa untuk benar-benar fokus.
“Pengurus baru YPMAK ini punya aturan yang ketat. Hindari kegiatan yang hanya mengganggu kuliah. Kuliah harus serius, kalau tidak mau, silakan pulang,” tegasnya.
Frans juga menitipkan pesan agar para penerima beasiswa selalu menjaga sikap, saling mendukung, serta aktif berkomunikasi dengan pembina ketika menghadapi masalah.
“Mitra pendamping itu orang tua. Jadi, kalau ada masalah sampaikan, jangan kita menutup diri,” pesannya.
Di balik wajah-wajah muda mahasiswa penerima beasiswa YPMAK itu, tersimpan harapan besar bagi keluarga dan tanah Papua. Program matrikulasi bukan hanya soal akademik, tetapi juga tentang menanamkan keyakinan bahwa mereka mampu bersaing di dunia pendidikan tinggi.
Bagi Andreas, perjalanan ini baru saja dimulai. Namun keyakinannya semakin kuat bahwa bekal dari YPMAK dan Universitas Sanata Dharma akan menjadi pijakan kokoh untuk mewujudkan cita-citanya. (ots-2)