Pilih Bahasa :
Pelatihan penyusunan laporan tahunan menggunakan standar GRI.
DALAM sebuah ruangan konferensi Hotel Swiss-Bel Jayapura, belasan peserta terlihat serius menatap layar proyektor. Tangan mereka mencatat poin demi poin, sementara dua instruktur dari Global Reporting Initiative (GRI), Lany Harijanti dan Dewi Suyenti Tio, bergantian menjelaskan tentang pentingnya laporan berkelanjutan.
Suasana pelatihan tidak sekadar formal. Ada diskusi yang cair, tanya jawab yang mengalir, hingga cerita pengalaman dari berbagai lembaga yang pernah menyusun laporan GRI. Bagi peserta dari YPMAK, momen ini terasa seperti membuka jendela baru.
“Selama ini kita memang menyusun laporan tahunan, tetapi pelatihan ini memberi kami perspektif berbeda. Laporan ternyata bukan sekadar dokumen administrasi, melainkan gambaran nyata dampak program,” ujar Monica Maramku, Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi Sosial Ekonomi YPMAK.
Selama tiga hari, peserta mendalami cara menyusun laporan yang bukan hanya berisi angka, tabel, atau grafik. Mereka belajar menyusunnya menjadi narasi yang hidup, menggambarkan bagaimana program memberi pengaruh langsung ke masyarakat.
Instruktur menekankan pentingnya melihat program dari berbagai sisi; sosial, lingkungan, dan tata kelola. Pendekatan inilah yang membuat laporan berbasis GRI semakin relevan dengan tantangan pembangunan berkelanjutan.
“Standar GRI membuat lembaga lebih disiplin dalam menyusun laporan. Ada struktur, ada ukuran yang jelas, dan ada keterhubungan dengan tujuan global seperti SDGs,” kata Lany Harijanti di sela pemaparan.
YPMAK mengirimkan empat kepala divisi dalam pelatihan ini; Oktovian Jangkup (Ekonomi), Monica Maramku (Monev Sosial Ekonomi), Lambertus H Mayao (Pendidikan), dan Yeremias Imbiri (Humas). Turut bergabung dalam pelatihan ini perwakilan PT Freeport Indonesia.
Bagi YPMAK, keterlibatan ini bukan hanya soal memenuhi kewajiban pelaporan, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan publik. Sebagai lembaga pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, transparansi menjadi landasan utama dalam setiap langkah kerja.
“Kami ingin masyarakat melihat dampak nyata dari program, bukan hanya membaca angka-angka di atas kertas,” tutur Yeremias Imbiri.
Pelatihan ini memberi bekal agar laporan tahunan YPMAK ke depan bisa lebih komprehensif. Mulai dari baseline, target, pencapaian, hingga evaluasi dampak, semuanya dirancang agar lebih jelas dan mudah dipahami.
Harapannya, laporan bukan hanya jadi dokumen wajib tahunan, tetapi juga referensi penting bagi masyarakat, pemerintah, dan mitra kerja dalam menilai sejauh mana program benar-benar memberi manfaat.
Dengan mengadopsi standar GRI, YPMAK menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat akuntabilitas. Upaya ini menjadi bagian dari perjalanan panjang mendukung pembangunan berkelanjutan di Papua.
Untuk diketahui, Laporan Tahunan YPMAK sudah mengadopsi GRI standar sejak laporan tahunan 2019 hingga 2023.
Usai pelatihan ini, YPMAK akan menyusun laporan tahunan menggunakan GRI standar terbaru yaitu GRI Universal Standards 2021, yang sudah berlaku sejak 1 Januari 2023 dan menggantikan standar sebelumnya.(ots-1/ots-2)