Pilih Bahasa :
Ketua Pengurus YPMAK, Leonardus Tumuka (kiri) menerima sertifikat usai menjadi pembicara pada forum “Kolaborasi untuk Inklusi Ekonomi” di Jakarta, Kamis (7/8).
DI tengah pesatnya pembangunan berbagai daerah di Indonesia, Tanah Papua masih menghadapi tantangan besar dalam hal akses pendidikan, layanan kesehatan, dan kemandirian ekonomi. Namun di balik tantangan itu, secercah harapan tumbuh dari komitmen Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), yang konsisten menghadirkan perubahan nyata di Kabupaten Mimika.
Selama lebih dari dua dekade, YPMAK—lembaga pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia—terus menyalurkan energi dan sumber daya untuk melakukan transformasi besar-besaran. Tak tanggung-tanggung, program unggulan yang didorong mencakup tiga pilar utama pembangunan masyarakat, yakni pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
“Ini sudah lebih dari 29 tahun, dan selama ini kita melakukan transformasi pada berbagai bidang, terutama pendidikan, kesehatan, dan ekonomi,” ujar Ketua Pengurus YPMAK, Dr Leonardus Tumuka, saat menjadi panelis dalam acara “Kolaborasi untuk Inklusi Ekonomi” yang digelar di Jakarta, Kamis (7/8).
Bagi Leo, keberhasilan membangun Papua bukan hanya soal angka dan pencapaian. Lebih dari itu, menyangkut proses panjang yang harus menyesuaikan dengan budaya lokal dan kondisi geografis yang menantang. “Tantangan yang dihadapi Papua cukup besar, mulai dari kebiasaan dan budaya masyarakat, hingga jarak wilayah yang sulit dijangkau,” ungkapnya.
Namun, YPMAK tak berhenti pada kendala. Pola baru terus diupayakan, intervensi terus dilakukan, dan kolaborasi lintas sektor diperkuat.
“Kali ini kita jadi panelis, dari Papua dan wilayah timur Indonesia. Ini menjadi modal baik untuk kita di YPMAK, terutama bagaimana melakukan terobosan yang lebih kolaboratif dan partisipatif,” ucapnya.
Tak sekadar program di atas kertas, Leo menegaskan, semua inisiatif YPMAK selalu berbasis pada kebutuhan nyata masyarakat. Tingkat partisipasi dan antusiasme warga pun terus meningkat dari waktu ke waktu.
“Sejak awal sampai dengan saat ini, euforia dan ketertarikan masyarakat atas apa yang kami lakukan semakin meningkat. Ini peluang besar untuk terus melakukan perubahan,” ujarnya.
Sejak tahun 2024, YPMAK telah membantu lebih dari seribu peserta didik. Angka ini menjadi bagian dari puluhan ribu orang yang telah merasakan dampak program pendidikan sejak lembaga ini berdiri. Fokus utama diberikan kepada anak-anak suku Amungme, Kamoro, serta lima suku kekerabatan di Mimika.
Tak hanya itu, pemberian beasiswa kini diarahkan lebih selektif. Leo menekankan pentingnya fokus pada prestasi dan kesinambungan pendidikan bagi anak-anak Papua. Di tengah berbagai keterbatasan, akses terhadap pendidikan berkualitas menjadi prioritas utama.
YPMAK menyadari, untuk menciptakan perubahan sistemik, sinergi dengan berbagai pihak adalah kunci. Saat ini pihaknya tengah menjajaki kolaborasi lebih luas bersama pemerintah daerah dan pusat, melalui nota kesepahaman (MoU) dengan PT Freeport Indonesia.
“Kami sedang berbicara tentang MoU antara YPMAK, pemerintah daerah, dan Freeport secara kolaboratif. Supaya intervensinya lebih luas dan tidak mengulang program yang sama,” terang Leo.
Nota kesepahaman itu nantinya akan mengatur pembagian tugas dan fokus kerja, sehingga dampaknya lebih terasa dan tidak tumpang tindih. Kolaborasi serupa sebelumnya sudah dilakukan dalam sektor kesehatan.
“Misalnya, pemerintah daerah membangun puskesmas hampir di seluruh wilayah pesisir dan pedalaman. Kami YPMAK juga menjalankan program kampung sehat. Itu dilakukan secara kolaboratif,” ujarnya.
Dalam bidang ekonomi, YPMAK tak sekadar berbicara bantuan, tapi juga penguatan kapasitas dan akses pasar. Leo menekankan pentingnya kerja sama dengan pemerintah daerah dalam mendorong produk unggulan Papua agar bisa bersaing di pasar yang lebih luas.
Tiga pilar utama yang dijalankan YPMAK bukan sekadar program jangka pendek. Ini adalah bagian dari upaya menyusun fondasi jangka panjang untuk kemajuan masyarakat Papua. Melalui pendidikan yang bermutu, layanan kesehatan yang merata, dan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal, YPMAK membuka jalan menuju kemandirian.
Di tengah tantangan dan keterbatasan, langkah-langkah yang dilakukan YPMAK menunjukkan bahwa perubahan di Papua bukanlah wacana semata. Ini sedang terjadi—perlahan namun pasti—berkat kolaborasi, kepedulian, dan komitmen yang tak pernah padam. (ots-1/ots-2)