Pilih Bahasa :
Dr. Leonardus Tumuka, Ketua Pengurus YPMAK
KEBIASAAN orang tua membawa serta anak ketika mencari nafkah untuk menopang hidup sehari-hari merupakan pemandangan yang lumrah di kampung-kampung pesisir Kabupaten Mimika.
Hari ini bukan hari pertama, juga bukan yang terakhir, anak-anak usia sekolah ikut orang tuanya melaut. Bukan karena keinginan, tapi karena tidak ada yang bisa dititipi selama orang tuanya mencari nafkah. Bagaimana dengan pendidikan si anak? Seperti layar sobek di tengah badai–mengembang tak penuh, nyaris karam.
Realitas inilah yang mengetuk kesadaran Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK). Lalu lahirlah sebuah ide program yang disebut sebagai rumah transit–sebuah konsep sederhana yang membawa dampak besar yakni menyelamatkan anak-anak pesisir dari kehilangan hak atas pendidikan.
“Rumah transit ini sangat penting, sebab persoalan di wilayah pesisir yang sudah lama dan kini masih terjadi adalah ketika orang tua melaut. Mereka akan bawa serta anak-anaknya, dengan alasan tidak ada yang merawat, sehingga banyak anak-anak yang tidak sekolah bahkan putus sekolah,” ungkap Ketua Pengurus YPMAK, Dr. Leonardus Tumuka.
Pernyataan itu tidak lahir dari ruang ber-AC semata. Ini adalah hasil dari pengamatan panjang dan cermat atas persoalan pendidikan di wilayah pesisir Mimika.
Dalam kondisi minim fasilitas dan terbatasnya dukungan sosial di kampung-kampung pesisir, pendidikan anak-anak menjadi tumbal pertama ketika orang tua harus memilih antara kebutuhan perut dan hak pendidikan anak.
Rumah transit akan berperan sebagai tempat penitipan sementara yang aman dan mendidik. Anak-anak yang sebelumnya harus ikut ke laut karena tak ada yang menjaga, kini bisa tinggal, makan, beristirahat, bahkan mendapatkan pendampingan belajar di rumah transit.
“Selama orang tua melaut, anak-anak dapat dititipkan ke rumah transit, sehingga mereka bisa beristirahat, makan bahkan dididik. Kalau orang tuanya sudah kembali, mereka bisa dibawa pulang ke rumah, dengan begitu mereka tidak harus putus sekolah atau tidak sekolah,” jelasnya dengan suara mantap.
Bagi Leo dan tim YPMAK, pendidikan tidak bisa menunggu. Anak-anak harus tetap belajar, sekalipun orang tua mereka harus bekerja keras menyambung hidup dari hasil laut.
Leo menegaskan, program ini bukan hanya milik YPMAK. Ia membuka pintu selebar-lebarnya bagi pihak lain untuk terlibat. Pemerintah Kabupaten Mimika, kontraktor, hingga sektor swasta diharapkan bisa bergabung, menjadi pionir dalam membangun dan menjaga rumah-rumah transit di berbagai wilayah.
“Ke depan YPMAK tidak sendiri, Pemkab Mimika pun bisa menjadi pioner, termasuk pihak kontraktor dan privatisasi yang ada di Mimika, bisa ikut terlibat demi menyelamatkan generasi penerus bangsa dan negara,” ujarnya.
Satu rumah transit yang kini telah bekerja sama dengan YPMAK adalah rumah transit di kawasan Gorong-Gorong, Timika. Dari situ, Leo melihat potensi keberhasilan yang besar.
“Saat ini YPMAK telah bekerja sama dengan rumah transit yang ada di Gorong-Gorong, dan hasilnya sangat bagus, sehingga ke depannya kita akan tambah lagi pembangunan rumah transit,” pungkas Leo.
Rumah transit bukan hanya sekadar bangunan, tapi ruang harapan. Di sana, anak-anak pesisir bisa tumbuh dalam kehangatan, bukan hanya dititipkan tetapi juga dididik, diasah dan disiapkan untuk masa depan yang lebih baik. Rumah transit menjadi pelita bagi generasi yang selama ini tersembunyi di balik gemuruh ombak dan jaring-jaring ikan.
Karena pendidikan pada akhirnya adalah hak setiap anak—baik yang tinggal di kota maupun yang berlayar bersama ayahnya dari fajar hingga senja. Rumah transit membawa pesan sederhana namun mendalam: tak seorang anak pun boleh tertinggal. (ots-2)