Pilih Bahasa :
Pelajar di Asrama Amor Semarang menampilkan tarian adat Suku Kamoro saat monitoring Pembina, Pengawas dan Pengurus YPMAK.
SUASANA ruangan rapat Pembina, Pengawas dan Pengurus Yayasan Pemberdayaan Amungme dan Kamoro (YPMAK) di Semarang pada akhir Juli 2025 terasa hangat oleh kabar menggembirakan.
Sebanyak 46 pelajar lulusan SLTA tahun 2025 dari suku Amungme dan Kamoro (Amor) dinyatakan lulus seleksi dan diterima di berbagai perguruan tinggi negeri bergengsi di Indonesia. Mereka resmi menjadi penerima Beasiswa Berprestasi 2025, sebuah program unggulan YPMAK yang mengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia.
Program ini menjadi titik terang bagi generasi muda asli tanah Mimika, Papua. Harapan dan kerja keras akhirnya membuahkan hasil. 46 pelajar asal Amor dari total 86 penerima beasiswa, siap melangkah ke bangku kuliah. Sisa 40 pelajar dari suku-suku Papua lain masuk dalam skema beasiswa umum.
“Adik-adik ini diterima pada sejumlah perguruan tinggi negeri yaitu Universitas Negeri Cenderawasih diJayapura, Universitas Negeri Papua di Manokwari, Universitas Negeri Airlangga, Universitas Negeri Teknologi Sepuluh November di Surabaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Sam Ratulangi di Manado, serta beberapa universitas negeri lainnya,” jelas Dr Leonardus Tumuka, Ketua Pengurus YPMAK yang akrab disapa Leo, saat ditemui usai rapat pembina YPMAK di Semarang, Selasa (29/7).
Duduk santai namun penuh semangat, Leo mengenang kekhawatiran awal saat program ini digagas. Ada keraguan, apakah akan ada cukup pelajar Amor yang lolos seleksi masuk PTN secara mandiri? Namun, hasilnya ternyata melebihi ekspektasi.
“Awalnya kami sedikit khawatir, karena program baru, apakah kuota-nya bisa terpenuhi, ternyata sedikit over dan ini saya anggap positif,” ucapnya penuh optimisme.
Keberhasilan ini menjadi tanda perubahan cara pandang generasi muda Amor terhadap pendidikan. Leo menggarisbawahi pentingnya semangat bersaing dan mengejar prestasi yang kini mulai tumbuh di kalangan pelajar.
“YPMAK bangga pada adik-adik ini, karena mereka sekarang mulai berpikir prestasi dan kompetisi, ini tren positif. Kami berharap tren ini terus dipertahankan, hingga lulus nanti bisa kembali ke daerah, menekuni bidang-bidang potensial, berada pada posisi strategis, ranah pengambilan kebijakan, mampu berdaya bersaing, membangun Mimika secara khusus, tanah Papua secara umum,” ujarnya.
Program beasiswa ini pun dirancang dengan arah yang sangat strategis. Pada tahun pertama pelaksanaannya, YPMAK memang memberikan prioritas penuh kepada anak-anak dari suku Amungme dan Kamoro. Namun, Leo menegaskan tahun-tahun berikutnya akan membuka ruang lebih luas untuk pelajar Papua lainnya.
“Program beasiswa berprestasi memang pada tahun pertama 2025 kami khususkan untuk adik-adik dari Amungme dan Kamoro. Adik-adik Papua lain yang sudah lulus masuk universitas negeri, tetap masuk dalam beasiswa umum, tahun depan kita dorong masuk beasiswa prestasi,” tegasnya.
Kisah para pelajar ini adalah cerita keberanian melampaui batas. Dari kampung-kampung kecil di Mimika, mereka kini bersiap mengepak tas menuju universitas-universitas di Jayapura, Surabaya, Malang, hingga Manado. Perjalanan yang tidak hanya menuntut otak, tapi juga hati dan karakter.
Bagi mereka, beasiswa bukan sekadar dana pendidikan. Ini adalah simbol kepercayaan. Kepercayaan bahwa mereka mampu menjadi generasi emas yang kelak akan memajukan daerah mereka.
Leo menutup wawancara dengan satu harapan yang menggema, bahwa suatu saat nanti para pelajar ini akan kembali—tidak hanya sebagai sarjana, tapi sebagai pemimpin, pembaharu, dan penjaga warisan di tanah kelahiran mereka. (ots-1)