Pilih Bahasa :
SENIN pagi (21/7/2025) menjadi langkah awal untuk ratusan anak dari Suku Kamoro, Amungme, Dani, Damal, Mee, Nduga dan Moni menempuh pendidikan di Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) yang mengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia.
Raut wajah anak-anak yang menempuh pendidikan di tingkat SD dan SMP tampak ceria saat dikumpulkan di aula. Ada yang naik kelas, adapula yang baru masuk SD maupun SMP.
Sebelum melaksanakan aktivitas belajar dan mengajar di tahun ajaran 2025/2026, pihak sekolah melakukan pendataan ulang terhadap siswa-siswinya. Selain itu, melakukan pemeriksaan kesehatan, mengecek kerapian rambut satu persatu siswa dan memberikan pembekalan.
Semua ini dilakukan untuk mengembalikan tradisi atau aturan yang diterapkan di SATP.
Kepala SATP Sonianto Kuddi mengatakan, pihak sekolah telah membentuk panitia untuk menerima kembali siswa-siswi usai menjalani masa liburan. Seluruh siswa-siswi telah memasuki asrama pada Jumat 18 Juli 2025.
“Tanggal 18 Juli, anak-anak sudah kembali ke sekolah untuk belajar. Dari itu, kami bentuk panitia penerimaan siswa yang kembali dari liburan,” kata Kuddi.
Berbagai tantangan tentu akan dihadapi pihak sekolah usai menerima kembali siswa-siswinya dari liburan. Seperti kebiasaan-kebiasaan di rumah selama liburan tidak bisa lagi diterapkan di sekolah.
Pihak sekolah memiliki aturan ketat yang harus ditaati siswa-siswi. Mulai dari ukuran rambut, pakaian, penampilan, kemudian sikap karakter dan pola-pola yang ada di SATP.
“Kami kembalikan aturan yang di sekolah kepada anak-anak ini usai liburan,” ujarnya.
Mengawali tahun ajaran baru, siswa-siswi tidak langsung masuk kelas untuk belajar pelajaran formal, tetapi pihak sekolah melakukan ‘fun learning’ atau pembelajaran yang menyenangkan dan kontekstual. Siswa-siswi diajarkan memiliki kekeluargaan dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
“Jadi mereka kami ajak senang-senang dulu, tentunya dengan pendampingan para guru. Ini dilakukan agar mereka merasakan bahwa di sekolah juga keluarga mereka. Dengan kata lain mereka diajak beradaptasi lagi. Sehingga kerinduan terhadap keluarganya itu terobati, terutama anak-anak SD,” terangnya.
Ada 6 pilar pendidikan dan pembinaan diterapkan di SATP. Mulai dari siswa-siswi harus kenyang, harus sehat, harus aman dan nyaman, harus tampil menarik, harus mendapatkan pendidikan yang bermartabat dan bermutu, serta harus mampu berkompetisi secara global.
Sebagai contoh, siswa-siswi harus sehat, maka pihak sekolah memberikan 5 kali makan dalam sehari. Begitupun dengan rambut harus rapi sesuai standar pihak sekolah.
“5 kali makan itu, 3 kali makan berat dan 2 kali snack. Penerapan 6 pilar itu sesuai dengan visi dan misi SATP, sehingga wajib dilakukan,” pungkasnya.
(ots-1)