Pilih Bahasa :
DI sebuah ruang kelas di Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), suara tawa dan diskusi hangat para guru menggema. Bukan siswa yang sedang belajar, melainkan 22 guru dari Kabupaten Nabire yang sedang menyerap ilmu baru, ilmu yang membuka mata dan hati mereka.
Selama 8 hari, para pendidik ini mengikuti pelatihan “Konstruksi Pendidikan Intelegensi Dasar” yang difasilitasi oleh Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia. Apa yang mereka temukan di SATP bukan sekadar metode mengajar, melainkan kesadaran baru akan peran dan pendekatan mereka sebagai pendidik.
Salah seorang peserta pelatihan, Budi mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya kepada SATP dan YPMAK. “Ternyata ilmu kita sedikit, setelah pelatihan ini kita berjanji akan membagikan ilmu ini ke teman-teman guru lain di Nabire dan akan memberikan metode belajar yang lebih baik kepada siswa,” ujarnya dengan sorot mata penuh tekad.
Budi sadar bahwa tantangan pendidikan di Nabire sangat besar. Namun, ia yakin metode pembelajaran dari SATP mampu membawa perubahan.
“Kalau kita tidak ke sini untuk belajar, mungkin anak-anak di sana tidak berkembang. Terima kasih Bapa dewan sudah bawa kami ke sini dan belajar banyak,” ucapnya, merujuk pada sosok Peter Warobai, Anggota DPR Papua Tengah yang menginisiasi keberangkatan mereka ke Timika.
Di sisi lain, guru bernama Syultje mengakui bahwa pelatihan ini menjadi cermin refleksi mendalam atas praktik mengajar mereka selama ini. “Saya sangat bersyukur, setelah belajar 8 hari di sini, kami bisa sadar selama ini kami mengajar dengan karakter yang kasar, tapi setelah pelatihan ini kita tahu cara mendidik yang baik,” ungkapnya jujur.
Bagi Syultje, pelatihan ini adalah titik balik. Ia melihat bahwa pendidikan bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi tentang membentuk karakter dengan pendekatan yang penuh empati.
“Dengan pelatihan yang kami dapatkan, maka saya yakin kita tidak akan kalah dan akan lebih maju,” tutur Syultje optimistis.
Peter Warobai sendiri hadir langsung menyaksikan perubahan yang dialami para guru. Ia percaya bahwa pendidikan adalah jalan panjang yang harus dimulai dari peningkatan kapasitas pendidik. “Terima kasih banyak untuk YPMAK dan SATP yang sudah kasih pembelajaran untuk guru-guru yang saya bawa dari Nabire,” ucap Peter penuh penghargaan.
Dari sisi penyelenggara, Deputi Bidang Monitoring dan Evaluasi YPMAK, Fransiskus Xaverius Wanmang menilai pelatihan ini sebagai langkah strategis dalam mendorong perubahan sistemik pendidikan di Papua.
“Apa yang didapat di sini, itulah yang kami ajarkan untuk anak-anak. Kami harap guru-guru bisa terapkan apa yang didapat di sini di sekolah masing-masing,” ucapnya.
Ia juga berharap inisiatif ini menjadi pemantik semangat bagi daerah lain di Papua untuk melakukan hal serupa. “Saya harap ini jadi jembatan untuk kabupaten lain, karena kami YPMAK sangat terbuka untuk pengembangan pendidikan agar anak-anak di Papua lebih berkembang,” kata FX Wanmang yang biasa disapa Frangky ini.
Dari SATP, para guru dari Nabire pulang membawa lebih dari sekadar modul pelatihan. Mereka membawa pulang semangat baru, cara pandang yang segar, dan harapan—bahwa pendidikan yang baik bisa mengubah masa depan anak-anak Nabire. (ots-1)