Pilih Bahasa :
DI BAWAH langit Mimika yang cerah pada Jumat 23 Mei 2025, Aula Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) menjadi saksi haru dan bangga saat 274 siswa-siswi resmi ditamatkan. Suasana penuh suka cita membalut prosesi penamatan yang mengusung tema “A New Beginning to Unlock The Future” (Awal baru untuk membuka masa depan) mencerminkan harapan besar yang dititipkan pada generasi muda Papua.
SATP merupakan lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia. Tahun ini sebanyak 178 siswa dari tingkat SD (91 laki-laki dan 87 perempuan) serta 96 siswa dari tingkat SMP (57 laki-laki dan 39 perempuan) berhasil menamatkan pendidikannya. Dari jumlah itu, enam siswa SMP akan melanjutkan pendidikan di SMAN Taruna Kasuari Nusantara, Manokwari, Papua Barat.
Penamatan ini juga menjadi momen istimewa karena dihadiri oleh berbagai tokoh penting, seperti Senior Vice President Community Relations PT Freeport Indonesia, Nathan Kum; Wakil Ketua Pengurus YPMAK Bidang Monitoring dan Evaluasi, Hendraotje Watory; Sekretaris Pengurus YPMAK Kristianus Ukago; serta Staf Ahli Bupati Mimika Septinus Timang.
Dalam sambutannya, Septinus Timang menyampaikan kebanggaan dan harapan besar kepada para lulusan SATP. “274 siswa-siswi yang ditamatkan di SATP itu bukan sedikit. Dari proses penamatan ini, saya sudah dapat mimpi bahwa untuk 10 sampai 20 tahun ke depan kita sudah bisa lihat hasil-hasil dari SATP,” ujarnya dengan semangat.
Septinus juga menyebutkan peluang besar bagi para lulusan untuk menempuh pendidikan di sekolah kedinasan seperti IPDN, Akpol, atau Akmil. Bahkan, ia membayangkan suatu hari kelak, “Saya berharap dan memimpikan, 20 tahun ke depan anak-anak kita ada yang menjabat Kapolres Mimika.”
Kepada para siswa, Septinus memberikan pesan menyentuh, “Waktu 6 tahun atau 8 tahun itu bukan singkat. Tetapi cukup panjang dan anak-anak sudah didik serta saling mengenal satu dengan lainnya.”
Ia menegaskan pentingnya menjaga nama baik sekolah, karena dari sinilah pendidikan mereka dimulai.
Apresiasi tinggi juga disampaikan kepada para guru. “Kami sangat mengapresiasi kepada bapak-ibu guru yang sudah mendidik generasi emas Papua. Dari tangan bapak-ibu guru, anak-anak ini akan meraih cita-cita yang diinginkan. “Kepada anak-anakku, penamatan ini bukan akhir, tapi awal dari perjuangan dalam menempuh pendidikan,” pesannya.
Sementara itu, Wakil Ketua YPMAK Bidang Monitoring dan Evaluasi, Hendraotje Watory, menyampaikan rasa terima kasih kepada para guru yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa.
Ia mengutip pesan inspiratif dari seorang Jenderal Amerika, “Jika anda mau merubah dunia maka mulailah dari menyimpan (merapikan) tempat tidur.” Menurut Otje, penamatan ini adalah awal perjalanan pendidikan yang sesungguhnya.
“Presiden Direktur PTFI Bapak Tony Wenas pernah menyampaikan bahwa ada kunci kesuksesan yaitu disiplin, fokus, tulus, dan jujur. Itu hal yang terpenting dalam menghadapi tantangan,” ujarnya.
Otje menambahkan, bekal kedisiplinan yang diperoleh di SATP akan menjadi fondasi kuat bagi para siswa dalam melanjutkan pendidikan mereka. Tak lupa, Otje menekankan pentingnya dukungan orang tua. “Berikan dukungan dan doa agar anak-anak ini bisa sukses meraih cita-cita. Dan kita akan melihatnya pada 10 sampai 20 tahun mendatang,” ujarnya.
Satu pesan penting kembali disampaikan kepada para siswa, “Walaupun nanti ada perbedaan di tempat yang baru, kalian harus tetap berjuang meraih mimpi. Yang tidak kalah penting adalah untuk terus menjaga nama baik almamater.”
Senior Vice President Community Relations PT Freeport Indonesia, Nathan Kum, menutup rangkaian sambutan dengan rasa bangga. “Tahun ini sejarah bagi SATP yang sudah menamatkan 274 siswa-siswi dan ini yang terbanyak,” ucapnya.
Nathan pun menitipkan pesan penuh makna kepada para lulusan, “Jauhi ganja, narkoba, dan lem aibon. Kenapa itu harus dilawan? Karena kalian adalah aset Mimika, Papua, dan Bangsa Indonesia.
Pada akhir sambutannya, Nathan mengingatkan, “Yang tidak kalah penting adalah hormati orang tuamu dan gurumu, karena merekalah yang sudah berjuang hingga kalian sampai di sini dan nanti bisa meraih cita-cita.”
Hari itu SATP tak hanya menamatkan 274 siswa-siswi, tapi juga mengukir jejak baru dalam perjalanan pendidikan anak-anak Papua. Sebuah permulaan yang membanggakan untuk membuka masa depan yang lebih cemerlang. (ots-1)